Ini Kendala Gunakan Bahan Bakar Gas

Kompas.com - 17/01/2012, 14:56 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Bidang Minyak dan Gas Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Ari H Soemarno menyebutkan, ada dua kelemahan dari bahan bakar gas. Salah satunya, tidak semua jenis mobil bisa menggunakan bahan bakar yang akan dipakai untuk mengalihkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi ini.

"Karena di lain pihak, pemakai BBG, baik itu CNG (gas alam terkompresi), itu harus juga ada pengorbanan dari pihak pemakai. Pertama, bagasinya akan kemakan," ujar Ari kepada Kompas.com di Jakarta, Selasa (17/1/2012).

Ari berujar, ia pernah memakai bahan bakar gas jenis Vi-Gas (LGV) sewaktu menjabat sebagai Direktur Utama Pertamina. Karena pernah memakai, ia pun mengerti betul bagaimana peralatan yang harus dipasang di mobil untuk menggunakan jenis bahan bakar gas itu.

Menurut dia, peralatan untuk menggunakan gas akan memakan tempat di bagasi. Jika mobilnya berjenis sedan, maka akan menyulitkan konsumen dalam menggunakan bagasinya karena sebagian ruang terpakai untuk peralatan konversi dari BBM ke gas. "Kalau mobilnya besar tidak masalah," ucapnya.

Kedua, sebut Ari, mobil yang menggunakan gas punya jarak jangkau lebih rendah ketimbang mobil dengan BBM. Dengan kondisi ini, mobil berbahan bakar gas harus sering melakukan pengisian. Otomatis, jumlah stasiun pengisian bahan bakar umum yang menyediakan gas ataupun stasiun pengisian bahan bakar gas harus tersedia di banyak tempat. "Fasilitas itu sudah tersedia, belum, bagi mereka untuk cepat ngisi?" tanya Ari.

Karena kelemahannya itu, tidak heran pertumbuhan mobil pribadi yang menggunakan bahan bakar gas lambat. Artinya, tidak banyak masyarakat yang menggunakannya. "Oleh karena itu, di negara lain, pertumbuhan mobil pribadi dengan memakai gas itu lambat," sebutnya.

Misalnya, Selandia Baru sudah lama memakai gas, tetapi pertumbuhan pemakainya tidak besar. Bahkan, Jepang hanya memakai gas untuk taksi. "Pengendara lain tetap memakai BBM dengan harga mahal karena yang penting fleksibilitas," kata dia.

Begitu pula kondisi di Pakistan dan negara-negara Eropa. Padahal, harga bahan bakar gas lebih murah daripada BBM. "Bayangin kalau di Eropa harga LPG bisa separuh harga BBM, tapi tetap aja pakainya rendah," ucapnya.

Ia berujar, pemerintah seharusnya melihat negara-negara tersebut dalam menerapkan bahan bakar gas sebagai upaya untuk mengurangi subsidi. Ari pun menilai upaya peralihan ke gas ini tidak akan berhasil.

Penggunaan pertamax untuk mobil pribadi lebih tepat. Namun, pemerintah menurutnya harus menciptakan suatu sistem yang bisa dilakukan. "Iran dikasih credit card gitu. Itu udah jalan tahunan, dan tiap bulan orang dapat jatah segini. Itu berlaku untuk pribadi dan umum," sebutnya. Jadi, pembatasan konsumsi BBM bersubsidi bisa dilakukan asal sistem dipersiapkan, seperti penggunaan kartu prabayar, serupa sistem yang telah digunakan di jalan tol.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau