Senjata

Pemerintah Myanmar Larang Militer Serang Pemberontak

Kompas.com - 17/01/2012, 17:51 WIB
KOMPAS.com - Pemerintah Myanmar memerintahkan militer menghentikan seluruh serangan di daerah-daerah konflik etnik minoritas, kata seorang pejabat penting, Selasa (17/1/2012).Tapi, pejabat itu mengaku  perintah itu kadang-kadang sulit dilaksanakan di lapangan.
    
Tawaran perdamaian pemerintah kepada pemberontak etnik adalah salah satu dari sejumlah reformasi-reformasi di negara yang diperintah militer selama hampir lima dasawarsa sampai pemerintah sipil berkuasa tahun lalu.
    
Pemerintah yang didukung militer itu, Kamis menandatangani satu perjanjian gencatan senjata dengan pemberontak Karen di daerah perbatasan timur. Hal itu menimbulkan harapan-harapan diakhirinya salah satu dari konflik-konflik sipil paling lama di dunia.
    
Sehari kemudian, Presiden Thein Sein memerintahkan tentara tidak menyerang kelompok-kelompok etnik kecuali untuk membela diri, kata Khin Yi, menteri imigrasi dan kependudukan kepada AFP dalam satu wawancara di ibu kota Naypyidaw. "Perintah itu mencakup seluruh negara itu," kata mantan kepala kepolisian nasional itu, yang hadir dalam penandatangan perjanjian gencatan senjata dengan pemberontak Persatuan Nasional Karen.  
    
Satu perintah kepresidenan yang dikeluarkan pertengahan Desember kepada militer untuk menghentikan serangan-serangan terhadap pemberontak etnik Kachin di utara negara itu gagal menghentikan pertempuran seru di daerah itu, kata pihak pemberontak itu.
    
Khin Yi mengaku bahwa bentrokan-bentrokan senjata masih terus terjadi di sejumlah daerah. "Beberapa satuan tingkat bawah, ketika melakukan patroli, tanpa diduga berpapasan dan terjadi baku tembak. Kadang-kadang perintah untuk tidak menyerang tidak sampai pada tingkat akar rumput," katanya.
    
"Pemberontak Kachin belum menyetujui tawaran pemerintah  bagi perundingan perdamaian," kata Khin Yi menambahkan.
    
Perang saudara melanda di beberapa daerah Myanmar sejak merdeka tahun 1948, dan menghentikan konflik-konflik itu serta pelanggaran terhadap hak sasi manusia yang melibatkan pasukan pemerintah, adalah satu tuntutan penting  masyarakat internasional.
    
Pada Desember, perjanjian gencatan senjata dicapai antara pemerintah lokal dan Tentara  Selatan Negara Bagian Shan, satu kelompok pemberontak penting etnik lainnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau