BANYUWANGI, KOMPAS.com — Hampir tak ada tanda-tanda geliat kehidupan di berbagai pelabuhan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, selama dua pekan ini. Nelayan, industri perikanan, bahkan pelayaran bagai mati suri. Yang terlihat hanyalah deretan kapal, lapak-lapak tanpa ikan, dan wajah-wajah kecewa pekerja pelabuhan yang menganggur.
Selama sepekan lebih terjadi hujan badai, gelombang tinggi, dan angin kencang mengempaskan rezeki mereka. Di Pelabuhan Muncar, Banyuwangi, kapal-kapal jenis slereg yang menjadi lambang kegagahan nelayan hanya terpajang di tepi dermaga yang sepi dari riuhnya transaksi ikan. Sebelumnya, pelabuhan ini ramai oleh pedagang, nelayan, dan buruh yang memanggul ikan hasil tangkapan nelayan.
Dua pekan ini cuaca buruk, gelombang tinggi, dan angin kencang membuat nelayan surut melaut. Sebagian dari mereka yang mencoba melaut akhirnya urung dan kembali ke darat karena khawatir tak kuat menahan empasan gelombang pantai selatan.
"Anginnya kencang luar biasa, tinggi gelombang bisa mencapai tiga meter lebih. Lambung kapal kayu kami rusak dan akhirnya harus kembali ke dermaga untuk diperbaiki," tutur Sahid (42), nelayan Muncar yang kini masih tak bisa melaut karena harus memperbaiki kapalnya.
Sahid tak sendirian, beberapa kapal nelayan milik rekannya juga rusak dan bocor. Di tengah gerimis yang mengguyur Muncar pada Rabu (10/1/2012), mereka masih bekerja menambal lambung kapal.
Sarah (39), juragan ikan asin, pun terpaksa menutup produksinya untuk sementara karena tak ada ikan dan tak ada panas matahari untuk menjemur ikan asinnya. Gelombang tinggi mengerek harga ikan ke titik termahal dalam sebulan ini.
Menurut Sarah, harga ikan langsung melonjak dari Rp 4.000 menjadi Rp 7.000 per kg karena sedikitnya tangkapan ikan. Sering kali ia tak mendapatkan pasokan ikan sama sekali karena hampir tak ada nelayan yang berani melaut hingga ke tengah.
Nasib yang terombang-ambing juga dialami oleh Sapadi (33), pedagang pakan ikan dari Pulau Sapeken, pulau yang jauhnya 10 jam perjalanan laut dari Banyuwangi. Sejak tiga hari lamanya Sapadi tinggal di pelabuhan menanti kapal perintis yang bisa membawanya ke Pulau Sapeken. Ia tidur di ruang tunggu dan makan apa adanya untuk menghemat uang saku sambil menanti kapal. Uang sakunya Rp 70.000 kini hanya tersisa Rp 5.000.
Beruntung gelombang reda dan kapal yang ia nanti bisa membawanya berlayar lagi pada Senin (16/1/2012). Ia hanya butuh bertahan selama 10 jam untuk bisa mencapai pulau itu dan mendapatkan bayaran dari para pelanggannya. "Ah, lega rasanya mendengar kapal bisa berlayar lagi," ujar Sapadi.
Tetapi, mungkin gelombang reda hanya sementara. Menurut Kepala Pelabuhan Tanjungsari, Sri Sukesi, perlu diwaspadai gelombang tinggi dan potensi badai di laut Jawa dan Bali.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika telah memberi peringatan potensi gelombang tinggi hingga awal Februari. Nasib nelayan kapal kecil dan penumpang kapal perintis pun bisa jadi terombang-ambing tak pasti lagi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang