4 Langkah Atasi Konflik Keuangan Pasangan

Kompas.com - 18/01/2012, 10:15 WIB

KOMPAS.com - Perekonomian yang sedang menurun dapat mempengaruhi kondisi perekonomian rumah tangga dan menyebabkan stres. Hal ini diperparah dengan kondisi pasangan yang pada dasarnya kurang dapat bekerja sama dalam hal mengelola keuangan.

"Dengan ekonomi saat ini, tekanan keuangan adalah masalah besar dalam keluarga dan dengan mudah dapat membuat pasangan saling menyalahkan satu sama lain," ujar Jonathan Rich, PhD, psikolog dan penulis buku The Couple's Guide to Love & Money.

Seringkali permasalahan terjadi ketika pasangan memiliki pandangan yang berbeda tentang masalah keuangan. Rich mengungkapkan bahwa perbedaan pendapat ini berujung pada tiga masalah, yaitu gaya hidup pasangan, ketergantungan sumber uang (uang mandiri atau adanya suplai uang dari pasangan), pengambil resiko keuangan (bermain aman, atau berani ambil resiko dalam keuangan). Dari tiga hal ini, penyebab konflik yang paling besar antarpasangan adalah gaya hidup seputar belanja.

Dalam hubungan berpasangan, biasanya ada dua golongan yaitu kelompok "Spartan" yang lebih tertarik untuk menghemat uang dan menabung untuk masa depan. Lalu ada kelompok "Monarch" merupakan pasangan yang lebih memilih untuk bergaya hidup mewah dan cenderung boros. Kedua jenis pasangan yang berbeda inilah yang akhirnya menimbulkan berbagai masalah keuangan.

Untuk meminimalisasi berbagai konflik yang mungkin akan terjadi dalam mengelola keuangan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, antara lain:

1. Mengidentifikasi tujuan bersama sebagai pasangan
"Pertemuan secara teratur untuk melihat tujuan jangka pendek dan jangka panjang dapat membantu untuk memilah-milah prioritas dan menemukan kesamaan dalam mengelola keuangan. Hal ini bisa membantu Anda untuk bekerja lebih baik dan memotivasi Anda untuk menyimpan uang Anda.

Misalnya, Monarch dan Spartan setuju bahwa mereka akan membeli rumah di masa depan, namun harganya yang tinggi membuat Monarch harus bisa menahan keinginan untuk terlalu banyak berbelanja dan memotong pengeluaran per bulan. Adanya tujuan yang sama dan komunikasi yang lancar akan membuat Monarch lebih mengerti dan mampu untuk menekan keinginan berbelanja dan menyimpan uang muka untuk membeli rumah.

2. Melacak pengeluaran
Dalam hal ini Rich menekankan pentingnya mencatat berbagai pendapatan dan pengeluaran Anda. "Jika biasanya Anda tidak mencatat keuangan, cobalah untuk melakukan sedikit perubahan yang memungkinkan Anda bisa mengatur keuangan lebih baik lagi dan bisa maju setiap bulan," tukas Rich.

3. Bekerja sama
Masalah kerap muncul akibat kurangnya kerjasama antarpasangan. Anda cenderung untuk mengontrol pengeluaran pasangan dan sebaliknya, sehingga pasangan merasa tidak dipercaya. Cobalah untuk mulai percaya dan menghargai kebijaksanaan pasangan dalam berbagai hal termasuk keuangan.

"Dua orang yang bekerja sama dengan baik bisa menjadi kekuatan yang tangguh, dan dengan bekerjasama Anda bisa mendapatkan solusi yang mungkin belum pernah Anda temukan untuk mengatasi masalah keuangan," tukasnya.

4. Memiliki rekening terpisah
Ketika menikah, semua hal memang menjadi milik bersama, termasuk keuangan. Tetapi tak ada salahnya jika Anda memiliki tabungan pribadi dalam rekening Anda sendiri. "Ini mirip seperti usaha patungan dimana Anda masing-masing harus memiliki kontribusi dan mendapatkan manfaat yang sama," tambahnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau