Aseksual, Tak Berminat pada Segala Aktivitas Seksual

Kompas.com - 18/01/2012, 13:48 WIB

Kompas.com - Ketertarikan fisik atau pun rasa cinta seringkali menjadi alasan timbulnya hasrat untuk bercinta. Namun tidak demikian halnya dengan orang aseksual. Meski menjalin hubungan dengan seseorang, mereka tak pernah punya keinginan untuk berhubungan intim.

Jenni Goodchild (21) merupakan salah satu orang yang tidak pernah memiliki ketertarikan seksual. "Saya tidak pernah merasa terangsang terhadap orang lain," kata mahasiswi di Universitas Oxford Inggris ini.

Menurut penelitian, ada sekitar satu persen orang yang mengalami aseksual di Inggris. Aseksual sendiri dideskripsikan sebagai orientasi seksual. Ini berbeda dengan selibat yang merupakan sebuah pilihan hidup.

Jenni mengatakan ia belum pernah berhubungan seks dengan siapa pun dalam hidupnya karena memang tidak tertarik. "Pernah mencoba seks atau tidak bukan penyebab saya tidak tertarik untuk bercinta. Itu sama saja dengan orang heteroseksual yang tidak tertarik untuk bercinta dengan orang sesama jenis. Mereka juga tidak pernah mencobanya," katanya.

Menurut The Asexual Visibility and Education Network (AVEN), komunitas online untuk orang-orang aseksual, menjelaskan bahwa meskipun tidak punya hasrat seks, namun mereka yang mengalami aseksual tetap puya kebutuhan emosional seperti halnya mahluk seksual.

Mark Carrigan, ahli sosiologi dari University of Warwick menjelaskan ada perbedaan antara aromantik aseksual dengan romantik aseksual.

"Aromantik aseksual tidak punya ketertarik romantis, sehingga mereka tidak suka disentuh dan segala bentuk keintiman fisik lainnya," paparnya.

Sementara pada romantik aseksual meski tidak punya ketertarikan seks namun mereka tetap ingin punya pasangan untuk saling berbagi. "Mereka ingin berdekatan dengan orang lain tapi hanya secara emosional," katanya.

Hal tersebut dialami oleh Jenni yang mengaku tetap tertarik pada lawan jenisnya. Ia kini menjalin hubungan dengan Tim (22) yang bukan aseksual.

"Banyak orang mengatakan saya egois karena Tim tidak akan mendapatkan apa pun namun ia bahagia dalam hubungan kami sehingga tidak ada alasan untuk berpisah," kata Jenni.

Jenni mengatakan ia dan kekasihnya lebih fokus pada aspek romantis dalam sebuah hubungan dan saling menyayangi. Tim sendiri mengaku ia tidak keberatan dengan kondisi Jenni.

"Saya tidak pernah terobsesi pada seks sehingga saya tidak peduli," kata Tim. Ditambahkan oleh Jenni, untuk mengekspresikan rasa cinta mereka juga melakukan kontak fisik seperti saling memeluk atau mencium.

Minim kajian

Aseksualitas sendiri jarang dikaji dalam studi ilmiah. "Ada orang yang melihat aseksual sebagai sebuah gangguan dan akan 'sembuh' dengan obat. Tak sedikit orang yang menyarankan saya untuk periksa hormon," kata Jenni.

Ia mengatakan tidak seperti dugaan orang, ia tidak pernah mengalami pelecehan seksual di masa kecil.

Menurut Carrigan, minimnya informasi mengenai aseksual karena orang yang mengalaminya biasanya tidak pernah terbuka. Ia menambahkan bahwa aseksual sangat berbeda dengan berkurangnya gairah seks.

"Ada beberapa penelitian mengenai gangguan gairah seksual yang diklasifikasi sebagai gangguan kepribadian. Hal itu mungkin tepat jika orang yang tidak punya ketertarikan seksual itu menjadi menderita," katanya.

Yang pasti belum diketahui apakah kondisi aseksual itu hanya bersifat sementara atau menetap.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau