Kalau Boleh Memilih, Biarkan Istri Saya Bebas

Kompas.com - 19/01/2012, 14:44 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kegundahan sedang melanda Ismail bin Janim (36), terdakwa kasus pencucian uang terkait tindak pidana Inong Malinda Dee (48). Vonis majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang akan didengarnya pada Kamis (19/1/2012) ini memang menjadi perhatiannya. Namun, ia lebih galau memikirkan dampak vonis tersebut bagi kedua anaknya.

"Kalau boleh memilih, biarkan istri saya, ibunya anak-anak, (divonis) bebas," kata Ismail lirih.

Ismail bersama istrinya, Visca Lovitasari (37), yang juga tersangkut kasus yang sama, sedang terancam hukuman penjara. Ismail dituntut jaksa penuntut umum hukuman penjara selama 5 tahun 6 bulan, sementara istrinya, Visca, yang adalah adik kandung Malinda, dituntut 4 tahun penjara.

Kegalauan terpancar jelas dari roman wajah Ismail saat menanti sidang dimulai. Sambil mengisap sebatang rokok putih, pikirannya menerawang jauh. "Sudah sepuluh bulan anak-anak dititipkan ke rumah keluarga saya," ujar Ismail. Sejak saat itu pula, Ismail hanya sempat bertemu anak-anaknya di beberapa kesempatan di sela-sela sidang pengadilan. Pasalnya, ia tidak ingin kedua anaknya mengetahui kedua orangtuanya hidup di balik terali besi.

Ia melanjutkan, kedua anaknya masih terlalu kecil untuk ditinggalkan tanpa asuhan kedua orangtua. "Belum lagi soal kebutuhan sehari-hari, kebutuhan pendidikan anak-anak," kata pria berkaca mata tebal ini.

Putranya yang berusia empat tahun sedang menjalani pendidikan di sebuah Pendidikan Anak Usia Dini, sedangkan putrinya baru berusia dua tahun. Ia bahkan sempat berpikir lebih jauh soal masa depan keluarganya.

Baik Ismail maupun istrinya telah di-PHK oleh perusahaan masing-masing sejak terlibat kasus ini. Ismail diberhentikan dari posisi karyawan Koperasi Nusantara, sedangkan istrinya di-PHK dari status karyawan PT Mitra Adi Perkasa.

"Sulit saya bayangkan masa depan kami dengan status suami-istri di-PHK," keluh Ismail getir.

Namun, Ismail masih berharap pada kebijaksanaan majelis hakim dalam menilai kasus ini. Sebagaimana terungkap dalam pleidoi yang dibacakan Ismail pada sidang sebelumnya, ia berharap putusan hakim akan mempertimbangkan nasib kedua anaknya.

"Anak-anak saya masih kecil tanpa asuhan orangtua. Semoga istri saya bisa bebas supaya bisa mengasuh anak-anak walaupun tanpa saya," kata Ismail. Ia menilai kasih sayang seorang ibu adalah hal yang paling dibutuhkan putra-putrinya saat ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau