Seperti musim sebelumnya, ”Kompas” memperkenalkan tim-tim peserta Liga Kompas Gramedia (U-14). Dari 16 tim, 13 peserta lama dan pernah dikupas. Kali ini dibedah tiga tim debutan, turun setiap akhir pekan, dimulai Minggu ini.
Denyut nadi kehidupan di balik markas Batalyon Arhanudri-1, Serpong, Tangerang Selatan, ternyata bukan hanya aktivitas kemiliteran. Di kompleks tentara itu, 120-an anak usia enam hingga belasan tahun Sekolah Sepak Bola atau SSB Rajawali Muda digembleng berlatih sepak bola. Empat kali dalam sepekan: Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu.
Jumat (20/1) sore, kawasan itu baru diguyur hujan, membuat lapangan becek. Namun, hal itu tak menyurutkan puluhan anak tetap berlatih. Ada tiga kelompok anak yang sore itu berlatih terpisah, masing-masing dibimbing satu pelatih.
”Kondisi lapangan seperti ini memang menyulitkan
SSB Rajawali Muda tampil mengejutkan dalam debut pada laga pembuka musim ini, memukul ranking pertama dua musim beruntun, AS-IOP Apacinti, 3-1. Pekan kedua, mereka menahan Kabo Mania, 1-1.
Ketua Umum SSB Rajawali Muda Achmad Sujai Husnan mengungkapkan, pemain yang turun di LKG U-14 ini adalah juara Liga Top Skor U-13 dan juara nasional Piala Menpora. Sekitar 10 pemain satu kelas di SMP 16 Kota Tangerang, semifinalis Liga Pendidikan Indonesia tingkat nasional.
Mereka sudah terbang tinggi. Sukses itu dicapai setelah hanya setahun mereka bangun lagi, berganti nama dari SSB Elang Muda yang berdiri 2008 dan mulai mati suri 2010. ”Mulai 2011 kami hidupkan lagi SSB Elang Muda dengan nama baru, SSB Rajawali Muda,” kata Sujai.
Menurut Sujai, siswanya direkrut dari SSB-SSB di kawasan Tangerang Selatan, terbagi dalam tujuh kelompok umur, mulai U-6, U-8, U-10, U-12, U-14, U-16, hingga U-18. Siswa mendaftar Rp 300.000 dan membayar iuran Rp 50.000 per bulan.
Dari iuran itu, kata Sujai, pengelola masih
”Paling kami hindari di sini, mematok target ke pemain. Itu hanya akan membebani pemain,” kata Umar Nalis, pelatih.
Sujai menambahkan, ketika anak diserahkan untuk dilatih, semua harus diserahkan kepada pelatih. Tak boleh intervensi.
”Saya pernah tegur orangtua yang melontarkan kata-kata tak pantas saat anaknya bertanding. Saya katakan, ’Sekali lagi kata-kata itu diucapkan, anak Bapak kami coret’,” tutur Sujai.
Tanpa disadari, dalam pembinaan usia muda, sikap orangtua tak jarang kontraproduktif. Ini yang harus dicegah.