Mau Mimpin Jakarta, Harus Paham Keberagaman

Kompas.com - 23/01/2012, 15:33 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, berkunjung ke Vihara Dharma Bakti di kawasan Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat. Dengan mengenakan kemeja batik naga dan topi khas kaisar Tiongkok, Foke, sapaan akrab Fauzi Bowo, menyalami masyarakat Tionghoa dan masuk ke dalam ruang vihara tersebut. "Saya ucapkan Tahun Baru. Semoga tahun naga air ini membawa berkah lagi bagi kita semua," kata Foke, ketika memberikan sambutan di hadapan ratusan umat di Vihara Dharma Bakti, Jakarta, Senin (23/1/2012).

Pria berkumis ini mengaku sudah lama tidak berkunjung ke kawasan Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat. Kendati demikian, ia menyampaikan salut kepada warga di sekitar Petak Sembilan yang mampu hidup berdampingan antar agama dan etnis. "Saya sudah lama nggak kemari. Tapi kerukunan umat beragama dan etnis di Petak Sembilan ini sangat terjaga. Inilah wajah keragaman di Jakarta," ujar Foke.

"Jadi kalau ada orang yang mau mimpin Jakarta, lalu nggak boleh ada etnis ini etnis itu. Itu tandanya dia nggak ngerti Jakarta," tegasnya yang diikuti riuh tepuk tangan umat di Vihara tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau