Cukup Tidur Penentu Keselamatan

Kompas.com - 25/01/2012, 07:50 WIB

AGNES ARISTIARINI

Ungkapan keprihatinan dan belasungkawa masih mengalir kepada keluarga korban dalam peristiwa tragis di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat, Minggu (22/1) siang. Sebuah mobil menyelonong ke trotoar dan menabrak para pejalan kaki yang pulang berolahraga dari lapangan Monas dan mereka yang sedang menunggu di halte bus.

Dari berbagai pemberitaan di media massa, pengemudi dan para penumpang dikabarkan habis berpesta di tiga tempat: hotel, kafe, dan diskotek. Mereka mengonsumsi narkoba, minuman keras, dan tampaknya juga begadang semalaman.

Dampak narkoba dan minuman keras sudah banyak dibahas di media massa. Namun, sebenarnya masih ada persoalan kurang tidur yang mungkin terlupakan. Urusan yang tampaknya sepele bisa jadi adalah salah satu faktor kunci dalam tragedi ini. Hasil penelitian menunjukkan, gangguan tidur memang banyak berkorelasi dengan kecelakaan.

Pemicu kecelakaan

Dalam dua artikel tentang kecelakaan terkait gangguan tidur yang dimuat di British Medical Journal (1995) dan Occupational and Environmental Medicine (1999), Jim Horne dan Louise Reyner menyebutkan, gangguan tidur sering memicu kecelakaan di jalan luar kota di Amerika Serikat, Jerman, dan Swedia. Kecelakaan umumnya terjadi pada dini hari atau menjelang siang.

Menurut The National Highway Traffic Safety Administration, kelelahan karena kurang tidur menjadi penyebab 100.000 kecelakaan kendaraan bermotor dan menelan korban 1.500 jiwa setiap tahun. Kelelahan adalah tanda dari otak bahwa tubuh perlu tidur.

Hasil penelitian di Inggris ternyata menunjukkan hal serupa. Dari 679 kecelakaan terkait gangguan tidur yang dilaporkan kepada polisi, 16 persen terjadi di jalan raya yang lurus dan lengang serta 20 persen terjadi pada pengendara sepeda motor.

Orang yang mengalami gangguan tidur—apalagi berkepanjangan—memang 2,5 kali lebih sering mengalami kecelakaan saat mengendarai kendaraan bermotor jika dibandingkan dengan orang yang cukup tidur.

Manusia memerlukan waktu tidur cukup karena tidur memengaruhi kemampuan motorik dan berpikir. Daniel Kripke dari The Scripps Clinic Sleep Center di La Jolla, California, menyebutkan bahwa tidur juga terkait berbagai penyakit dan menentukan panjang-pendek umur manusia.

Jam tidur ideal

Lama tidur ideal berbeda-beda. Bayi baru lahir membutuhkan waktu tidur 16-20 jam sehari. Jumlah ini terus menurun pada anak-anak di bawah 10 tahun menjadi 10-12 jam per hari, di atas 10 tahun 9-10 jam per hari, dan pada usia dewasa 6,5-7,5 jam per hari. Kurang atau lebih dari itu bisa berdampak buruk.

Kripke dalam penelitian yang dikutip majalah Time dan CNN (2010) menjelaskan, orang dengan jam tidur ideal—terutama pada malam hari—kebanyakan berumur panjang. Sebaliknya, orang yang tidur hingga delapan jam atau lebih dan tidur kurang dari 6,5 jam berumur lebih pendek. Kekurangan atau kelebihan tidur juga berdampak pada depresi, kegemukan, dan penyakit jantung.

Sebenarnya, para ahli belum tahu pasti mengapa waktu tidur menjadi begitu berarti. Namun, seperti yang diungkap dalam situs WebMD, mereka menduga hal ini terkait dengan bagian dari otak yang disebut hippocampus dan neocortex yang berfungsi menyimpan ingatan. Saat tidur, hippocampus akan memutar ulang semua peristiwa hari itu kepada neocortex yang kemudian menyimpannya untuk jangka panjang.

Beberapa percobaan menunjukkan, ada memori-memori tertentu yang menjadi stabil dalam periode tidur yang disebut rapid eye movement (REM) atau pergerakan mata yang cepat, yaitu saat kita bermimpi. Beberapa tipe memori lain justru mulai disimpan dalam periode gelombang lambat yang dikenal sebagai saat tidur nyenyak.

Selain itu, semua makhluk memang menjalani siklus kehidupan sesuai irama rotasi Bumi, 24 jam sehari, disebut irama sirkadian. Pada manusia, pusat kontrol sirkadian—terletak di bagian otak yang disebut ventral anterior hypothalamus—mengistirahatkan tubuh dan menstimulasi sel-sel pada malam hari. Itu sebabnya mengapa tidur menjadi penting untuk bertahan hidup.

Masalah banyak orang

Hampir setiap orang pernah mengalami gangguan tidur dan akan bertambah frekuensinya sejalan dengan peningkatan usia. Berdasarkan statistik, setiap tahun 20-40 persen orang dewasa, yang meningkat menjadi 40-50 persen pada usia lanjut.

Pemicu gangguan bisa bermacam-macam, mulai dari mengejar tenggat pekerjaan, ingin bersenang-senang lebih lama, gangguan kesehatan baik jiwa maupun fisik, hingga ketergantungan obat dan alkohol.

Gangguan tidur yang tidak diatasi berdampak pada menurunnya daya tahan tubuh. Orang yang kurang tidur biasanya juga sulit berkonsentrasi dan mudah tersinggung, yang pada akhirnya dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau