SNI Mainan Anak Masih Berpotensi Membahayakan

Kompas.com - 25/01/2012, 15:07 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mendesak pemerintah untuk secara ketat melakukan pengawasan serta peningkatan standar SNI (Standar Nasional Indonesia) terkait masih banyak ditemukannya mainan edukasi yang mengandung zat berbahaya.

Hal itu disampaikan oleh Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi kepada wartawan saat mengumumkan hasil pengujian beberapa mainan edukasi anak yang terbukti mengandung zat kimia berbahaya di Jakarta, Rabu, (25/1/2012).

"Yang jelas dengan temuan ini YLKI akan mendorong agar standar SNI yang ada lebih ditingkatkan. Artinya, standar yang ada saat ini masih berpotensi membahayakan anak-anak," katanya.

Dari hasil uji laboratorim terhadap 21 sampel mainan edukasi, YLKI menemukan bahwa mayoritas mainan edukasi yang beredar di pasaran mengandung kandungan logam berat berbahaya seperti timbal, merkuri, kadmium dan Kromim.

Tulus menilai, meskipun kadar kandungan logam yang terdapat pada mainan masih di dalam ambang batas alias wajar, tetapi menurutnya, hal itu sangat berbahaya bagi anak-anak.

"Seharusnya pemerintah membebaskan kandungan zat berbahaya terhadap mainan anak-anak. Jangan menggunakan standar yang paling rendah, itu sama saja meracuni. Kalau di negara lain kandungan berbahayanya bisa zero, kenapa kita tidak," tegasnya.

Tulus beralasan bahwa anak-anak masih sangat rentan tekontaminasi zat berbahaya karena imunitas tubuhnya masih rendah. Ia juga mengimbau pemerintah untuk terus mendorong produsen-produsen lokal yang berkecimpung dalam pembuatan mainan anak agar bisa lebih berkreasi dalam membuat produk yang ramah untuk anak.

"Tidak boleh ada kandungan zat kimia apa pun pada mainan anak-anak. Dalam jangka panjang, hal ini bisa memberikan dampak negatif pada kesehatan anak seperti misalnya gangguan pada saraf otak sampai kematian," tutupnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau