JAKARTA, KOMPAS.com — Anggota DPR 1999-2004, Agus Condro, meyakini adanya penyandang dana di balik pemberian cek perjalanan oleh Nunun Nurbaeti dan Miranda Goeltom. Mengenai siapa penyandang dana itu, Agus mengatakan bahwa pimpinan Fraksi PDI-P saat itulah yang mengetahui hal tersebut.
"Penyandang dana itu pimpinan yang tahu, logikanya pimpinan fraksi, Tjahjo, Panda Nababan-lah yang tahu," kata Agus saat dihubungi wartawan, Kamis (26/1/2011).
Pada 2004, Nunun diduga memberikan 480 lembar cek perjalanan kepada sejumlah anggota DPR 1999-2004 untuk meloloskan Miranda sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia 2004. Miranda diduga turut serta atau membantu Nunun dalam pemberian cek-cek tersebut.
Menurut Agus, saat itu PDI-P berkepentingan memenangkan Miranda. Partai berlambang banteng itu, katanya, akan malu jika Miranda yang pernah didukung PDI-P untuk menjadi Gubernur BI itu kembali kalah dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia 2004.
Dalam pencalonannya sebagai Gubernur BI pada 2003, Miranda akhirnya kalah dari Burhanuddin Abdullah. Setelah itu PDI-P mencalonkannya dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, setahun kemudian.
Dalam persidangan juga terungkap, Megawati Soekarnoputri, pimpinan PDI-P, dekat dengan Nunun. Sebelumnya, Agus yang juga mantan terpidana kasus suap cek perjalanan ini mengungkapkan, Miranda dan anggota DPR 1999-2004 mengadakan pertemuan di Bimasena Club Hotel Dharmawangsa sekitar 24 Mei 2004. Pertemuan yang dibiayai Miranda dan dipimpin oleh Panda Nababan itu dilakukan sebelum uji kelayakan dan kepatutan calon Deputi Gubernur Senior BI 2004.
Meskipun dalam pertemuan itu Miranda tidak menjanjikan apa pun, Agus yakin bahwa pertemuan tersebut bertujuan agar Fraksi PDI-P memilih Miranda.
Dalam kasus ini, lebih dari 30 anggota DPR 1999-2004 divonis dan beberapa di antara mereka selesai menjalani masa hukumannya. Namun, pemodal di balik pembelian cek perjalanan senilai Rp 24 miliar ini belum terungkap.
Miranda dan Nunun mengaku tidak tahu siapa dalang di balik pemberian cek ini. Demikian juga pengakuan sejumlah anggota DPR 1999-2004 yang terlibat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang