Warga Korea Utara Dilarang Gunakan Ponsel Selama 100 Hari

Kompas.com - 27/01/2012, 16:46 WIB

KOMPAS.com — Korea Utara (Korut) baru saja kehilangan pemimpinnya, Kim Jong Il, yang meninggal dunia pada 17 Desember 2011. Pemerintah Korut mengumumkan masa berkabung selama 100 hari untuk memperingati kematian Jong Il. Selama masa berkabung ini, tidak ada masyarakat Korut yang boleh menggunakan ponsel.

Dikutip dari The Telegraph, siapa saja yang melanggar dekret ini akan dihukum sebagai penjahat perang.

Ada ketakutan di dalam Pemerintah Korut saat ini, apalagi sang pemimpin Jong Il, yang selama ini sangat dihormati, telah tiada. Pelarangan penggunaan ponsel ini jadi suatu usaha untuk mencegah masyarakat bersatu menentang rezim yang berkuasa.

Pemerintahan Korut, yang saat ini dipimpin Kim Jong Un (anak dari Jong Il), menghindari provokasi yang bisa menyebabkan pemberontakan seperti di Timur Tengah.

Revolusi yang terjadi di Mesir dan Libya, misalnya, bisa terjadi karena bantuan alat komunikasi dan jaringan internet.

Mei 2011, pasca-pemberontakan di Timur Tengah, Pemerintah Korut menyita ribuan ponsel dan secara ketat mengawasi setiap komunikasi dari luar negeri.

Pada akhir 2008, situs teknologi CNet sempat melaporkan bahwa Pemerintah Korut membatasi penggunaan ponsel dan mengintimidasi warga agar tidak melakukan komunikasi ke luar negeri.

Pemerintah mencegah warga mengungkap masalah kekurangan pangan. Tak hanya itu, isu kesejahteraan di Korut juga menjadi masalah serius karena rata-rata pendapatan bulanan mereka hanya 15 dollar AS atau sekitar Rp 135.000.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau