Giliran Kekasih Miss Indonesia 2011 Bantah Tuduhan

Kompas.com - 30/01/2012, 11:53 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com -- Konflik dalam keluarga Astrid Ellena Indriana Yunadi (21) akhirnya menyeret Donny Leimena ke dalamnya. Pasalnya, Fredrich Yunadi, ayah biologis Miss Indonesia 2011 itu juga menyebut bahwa kekasih gadis yang akrab disapa Ellen itu menggunakan identitas palsu.

Pernyataan itulah yang membuat Donny gerah. "Sudah saatnya saya melakukan klarifikasi karena berita fitnah di media cetak dan elektronik yang dibuat oleh Fredrich sudah mencemarkan nama baik saya dan keluarga besar orang tua saya," tulis Donny dalam email-nya kepada Harian Pagi Surya, Jumat lalu (27/1/2012).

Donny menambahkan, "Saya heran kok ada pengacara yang punya gelar segudang dan katanya mengerti hukum tapi dengan gampangnya memfitnah KTP saya palsu. Saya jadi ragu dari mana dapat gelarnya."

Apakah Donny akan melakukan upaya hukum? "Saya akan tuntut secara pidana karena mencemarkan nama baik saya!" tandas Donny dalam SMS yang dikirim ke Surya.

Donny, yang sudah bertunangan dengan Ellen pada Desember 2011, berharap aib keluarga Fredrich biarlah diselesaikan secara kekeluargaan bukan melalui fitnah di media. "Bagi saya yang paling penting sekarang Ellen menjalankan tugasnya sebagai Miss Indonesia dengan baik dan menyelesaikan kuliahnya," pungkasnya.

Ketika dikonfirmasi, Yunadi tetap memegang pernyataannya bahwa Donny menggunakan KTP palsu. "Sekarang cek saja, datang ke alamat seperti di KTP-nya itu. Ada enggak dia disana? Ada pernyataan dari kelurahan, RT, dan RW bahwa tidak ada yang namanya ini di sini," tandas Yunadi.

Pria berstatus pengacara itu kukuh bahwa ia tidak menebar fitnah. "Saya punya surat dari lurah dan camat. Itu semua bukan saya yang bikin, bukan saya yang ngarang, fakta ada kok," tegasnya.

Soal sikap Ellen yang tidak percaya pada bukti-bukti yang dimilikinya, Yunadi tidak peduli lagi. "Saya sudah kasih tahu dia, sudah arahkan dengan benar. Kalau dia tidak percaya, terserah dia," ujarnya.

Sampai saat ini, kata Yunadi lagi, dia tak habis pikir bagaimana cara Linda (Linda Indriana Campbell, ibu kandung Ellen) mendidik Ellen sehingga anak bungsunya tersebut punya sifat seperti itu. "Ellen itu diculik ibunya di sekolah tahun 1993. Waktu itu Ellen masih berumur tiga tahun, belum ngerti apa-apa. Tujuan ibunya menculik karena mau membuat saya kesal, karena dia tahu saya sangat sayang Ellen," ucapnya. (pra)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau