Assad dan Keluarga Akan Dibunuh seperti Khadafy

Kompas.com - 31/01/2012, 15:48 WIB

DAMASKUS, KOMPAS.com — Presiden Suriah Bashar al-Assad, istrinya Asma, dan keluarga mereka akan mengalami nasib berdarah "seperti Moammar Khadafy" ketika rezimnya jatuh. Peringatan itu disampaikan seorang pemimpin gerakan oposisi.

Haitham Maleh, seorang anggota komite eksekutif Dewan Nasional Suriah (SNC), mengatakan pada The Daily Telegraph, Senin (30/1/2012), Assad telah memusnahkan semua kesempatan keluar dari Suriah secara damai dengan menindak keras para pengunjuk rasa.

Maleh adalah mantan hakim yang pernah mendekam di penjara karena aktivitasnya memperjuangkan HAM. Dia memprediksi Assad, istri, dan tiga anak mereka bakal terbunuh dalam aksi balas dendam karena kegagalannya merespons secara positif tuntutan perubahan secara damai.

"Assad dan keluarganya akan terbunuh di Suriah, langkah mereka berikutnya akan berdarah-darah," ujar Maleh.

"Dua bulan lalu kami menawarkan pada pilihan untuk membiarkan kami dan pergi. Namun, dia justru memburu darah rakyatnya. Akhir baginya adalah dia akan terbunuh seperti Khadafy," paparnya.

Media-media Timur Tengah melaporkan bahwa Asma Assad berusaha kembali ke Inggris atau setidaknya menjauhi pertempuran di Damaskus. Surat kabar Mesir Al-Masry-Al-Youm, mengutip sumber-sumber di kalangan pemberontak, melaporkan, Nyonya Assad bersama tiga anaknya, Hafez, Zein, dan Lareem, juga ibu dan sepupu Assad, dibawa ke bandara Damaskus. Namun, konvoi yang membawa mereka dicegat tentara pembelot hingga mereka terpaksa kembali ke istana kepresidenan.

PBB memperkirakan lebih dari 5.000 orang tewas dari kedua pihak saat rezim Suriah menggunakan tank, roket, dan unit penembak jitu untuk meredam demonstrasi. Serangan pemerintah itu dilakukan oleh Divisi ke-4 yang sangat loyal pada pemerintah karena dipimpin oleh Maher, saudara kandung Bashar al-Assad.

Menurut Maleh, tak lama lagi "dua angkatan bersenjata" bakal berhadap-hadapan setelah aparat keamanan meninggalkan kesatuan mereka.

"Sebagian besar personel militer akan memisahkan diri dari tentara Assad demi melindungi rakyat. Maher, khususnya, sangat brutal, dia akan keluar dan menembaki sendiri rakyatnya, dan tentara biasa tidak menginginkan hal itu," lanjut Maleh.

Tokoh oposisi berusia 80 tahun itu menolak tawaran Rusia untuk menjembatani dialog dengan rezim Assad demi mengakhiri kekerasan yang terus meningkat. "Tidak akan ada perundingan. Bagaimana kami bisa berdialog dengan rezim kriminal, kami tidak bisa melakukannya sekarang," tegas Maleh, pendiri komite eksekutif SNC.

"Bagaimana kami berbicara dengan orang yang mengacungkan pistol ke kepala kami. Sangat tidak mungkin berdialog dengan orang itu," imbuh pendiri komite eksekutif SNC.

SNC meningkatkan dukungannya pada Tentara Pembebasan Suriah (FSA) yang kekuatannya bertambah dengan bergabungnya tentara yang membelot. "Kami mengirimi mereka uang dan mereka meminta senjata, jadi kami mengirimkannya. Pemerintah Turki mengizinkan kami membuka rekening atas nama dewan nasional," tutur Maleh.

Sementara teman-teman Asma Assad, yang besar dan menyelesaikan pendidikan di Inggris, merasa yakin Asma membenci kekerasan yang terjadi demi mempertahankan kediktatoran rezim suaminya.

"Dia pasti ngeri melihat yang terjadi. Sebagian besar masa hidupnya dihabiskannya di sini (Inggris). Etika dan moralitasnya terbentuk di sini. Saya rasa dia pasti sangat terpukul," kata Malik al-Abdeh, tokoh televisi terkemuka di Inggris dalam wawancara dengan The Times.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau