Bulu tangkis

Disiapkan, Strategi Lawan Thailand

Kompas.com - 01/02/2012, 02:37 WIB

Jakarta, Kompas - Pada ajang Piala Uber sebelumnya, Thailand bukan termasuk kekuatan bulu tangkis yang diperhitungkan. Namun, kemajuan pesat prestasi pemain ”Negeri Gajah Putih” itu membuat mereka menjadi ancaman nyata dan kini tim Indonesia pun harus menyiapkan strategi khusus untuk menaklukkan mereka.

Seperti diberitakan sebelumnya, tim Uber Indonesia akan bersaing dengan Thailand pada babak penyisihan Grup Y Piala Uber Zona Asia yang akan berlangsung di Makau, 13-19 Februari mendatang. Selain Thailand, juga ada Sri Lanka dan Kazakhstan yang tergabung di grup ini.

Dibandingkan dua negara yang disebut terakhir ini, Thailand menjadi ancaman serius tim Indonesia, yang berupaya meraih hasil maksimal menjadi juara grup. Juara grup menjadi harga mati agar Indonesia bisa terhindar pertemuan dengan China pada babak perempat final.

”Faktanya, Thailand punya kekuatan dan ancaman serius buat kita. Namun, kita juga tidak perlu khawatir sepanjang ada strategi yang kami siapkan,” kata Manajer Tim Thomas dan Uber Mochammad Feriansyah di Jakarta, Selasa (31/1).

Feriansyah menambahkan, hasil pada SEA Games 2011 di Jakarta menjadi bahan evaluasi sekaligus analisis untuk menyiapkan strategi yang pas. Ketika itu, Indonesia yang didukung penonton tuan rumah takluk 1-3 dari Thailand pada partai final.

Thailand menggaet tiga poin dari tunggal pertama dan kedua, serta ganda kedua. Satu-satunya poin yang didapat Indonesia berasal dari pemain ganda, Anneke Feinya/Nitya Krishinda.

Hitungan kekuatan

Dari hitung-hitungan kekuatan materi pemain, Thailand punya keunggulan di sektor tunggal, terutama tunggal pertama dan kedua. Pada tunggal pertama, juara dunia yunior tiga kali, Ratchanok Inthanon, menjadi andalan. Sementara di tunggal kedua, seniornya, Porntip Buranaprasertsuk, akan melapis.

Pada SEA Games lalu, Ratchanok berhadapan dengan Adriyanti Firdasari, sementara Porntip melawan Lindaweni Fanetri. Peringkat dua pemain Indonesia ini punya gap yang cukup jauh. Firda di peringkat ke-35, sedangkan Lindaweni di peringkat ke-47. Namun, secara permainan sebenarnya mereka masih bisa mengimbangi lawan.

Untuk tunggal ketiga, Thailand menyiapkan SapsireeTaerattanachai atau Nichaon Jindapon. Sementara Indonesia punya Maria Febe dan Bellaetrix Manuputty. Dua pemain Thailand ini secara level permainan juga tidak terlalu berbeda kualitasnya dengan pemain Indonesia.

”Strateginya, kita harus bisa ambil minimal satu poin dari tunggal. Sebab, kekuatan dua ganda kita masih lebih baik dari pemain Thailand,” kata pelatih ganda putri, Aryono Miranat.

Menurut Aryono, pada SEA Games 2011, pasangan Greysia Polii/Meiliana Jauhari tidak tampil karena cedera. ”Dengan tampilnya mereka sekarang, tentu akan menambah kekuatan kita,” kata Aryono.

Pada SEA Games lalu, satu poin lepas dari pasangan dadakan, Vita Marissa/Liliyana Natsir, yang dikalahkan ganda kedua Thailand, Savitree Amitrapai/Saralee Thoungthongkam.

Aryono menambahkan, dari kondisi stamina dan fisik, Greysia, yang beberapa waktu lalu mengalami cedera bahu, kini dalam kondisi siap tampil.

”Selain latihan fisik, program persiapan tim juga difokuskan untuk menggenjot motivasi pemain. Kami juga menekankan pada latihan taktik dan strategi bermain kepada mereka,” kata Aryono.

Sekretaris Jenderal Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia, yang juga wakil manajer tim, Yacob Rusdianto menambahkan, dia masih optimistis tim Uber bisa lolos. ”Pemain sudah bertekad untuk lolos dan mereka bersemangat sekali. Mari kita dukung mereka,” ujarnya.(OTW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau