MAKASSAR, KOMPAS
Ketua Asosiasi Petani Kakao Indonesia (APKI) Sulawesi Selatan (Sulsel) Sulaiman Husain di Makassar, Sulsel, Selasa (31/1), mengemukakan, serangan hama penggerek buah kakao dan penyakit kanker batang melanda 60 persen pohon yang ditanam di areal seluas 280.000 hektar sepanjang tahun lalu. Fenomena tersebut mengganggu produktivitas dan kualitas buah kakao yang dihasilkan setiap pohon.
Produktivitas rata-rata lahan kakao yang mencapai 798 kilogram (kg) per hektar per tahun pada 2010 turun menjadi 500 kg tahun lalu. ”Daya tahan tanaman kakao semakin lemah akibat anomali cuaca yang masih sering terjadi,” ujar Sulaiman. Tingginya intensitas hujan mengganggu proses pembuahan dan memicu munculnya penyakit.
Kondisi tersebut memengaruhi kualitas biji kakao yang tak memenuhi standar ekspor. Hasil biji kakao dari pohon yang terserang hama dan penyakit pun hanya laku dijual Rp 11.000-Rp 13.000 per kg. Bandingkan dengan harga biji kakao yang bagus sebesar Rp 20.000-Rp 23.000
Kementerian Pertanian sebenarnya telah menggagas program gerakan nasional untuk meremajakan dan mengoptimalkan tanaman kakao yang sudah tua. Namun, program yang dimulai tahun 2009 itu ditargetkan memberi dampak signifikan pada 2013 dan 2014.
Upaya pemerintah meningkatkan produktivitas lahan dengan penggunaan bibit embriogenesis semiotik (ES) pun belum optimal. ”Bibit SE yang belum pernah diuji coba sebelumnya ternyata kurang cocok dengan kondisi lahan di Sulsel,” kata Sulaiman. Ia pun berharap pemerintah mengolaborasi bibit SE dengan bibit lokal, seperti Sulawesi I dan II
Terganggunya produksi kakao memengaruhi realisasi ekspor di PT BMT, salah satu eksportir di Makassar. Direktur Utama PT BMT Risnaldy mengatakan, perusahaannya hanya mengekspor 1.000 ton biji kakao ke Malaysia tahun lalu. Jumlah itu menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar 3.500 ton.