Perkebunan

Produksi Kakao Sulsel Karut-marut

Kompas.com - 01/02/2012, 03:05 WIB

MAKASSAR, KOMPAS - Merosotnya ekspor biji kakao Sulawesi Selatan hingga 43 persen tahun lalu dipengaruhi oleh kondisi karut-marut di sentra penghasil. Usia tanaman kakao yang umumnya di atas 20 tahun menyebabkan pohon rentan terserang hama dan penyakit.

Ketua Asosiasi Petani Kakao Indonesia (APKI) Sulawesi Selatan (Sulsel) Sulaiman Husain di Makassar, Sulsel, Selasa (31/1), mengemukakan, serangan hama penggerek buah kakao dan penyakit kanker batang melanda 60 persen pohon yang ditanam di areal seluas 280.000 hektar sepanjang tahun lalu. Fenomena tersebut mengganggu produktivitas dan kualitas buah kakao yang dihasilkan setiap pohon.

Produktivitas rata-rata lahan kakao yang mencapai 798 kilogram (kg) per hektar per tahun pada 2010 turun menjadi 500 kg tahun lalu. ”Daya tahan tanaman kakao semakin lemah akibat anomali cuaca yang masih sering terjadi,” ujar Sulaiman. Tingginya intensitas hujan mengganggu proses pembuahan dan memicu munculnya penyakit.

Kondisi tersebut memengaruhi kualitas biji kakao yang tak memenuhi standar ekspor. Hasil biji kakao dari pohon yang terserang hama dan penyakit pun hanya laku dijual Rp 11.000-Rp 13.000 per kg. Bandingkan dengan harga biji kakao yang bagus sebesar Rp 20.000-Rp 23.000 per kg.

Kementerian Pertanian sebenarnya telah menggagas program gerakan nasional untuk meremajakan dan mengoptimalkan tanaman kakao yang sudah tua. Namun, program yang dimulai tahun 2009 itu ditargetkan memberi dampak signifikan pada 2013 dan 2014.

Upaya pemerintah meningkatkan produktivitas lahan dengan penggunaan bibit embriogenesis semiotik (ES) pun belum optimal. ”Bibit SE yang belum pernah diuji coba sebelumnya ternyata kurang cocok dengan kondisi lahan di Sulsel,” kata Sulaiman. Ia pun berharap pemerintah mengolaborasi bibit SE dengan bibit lokal, seperti Sulawesi I dan II

Terganggunya produksi kakao memengaruhi realisasi ekspor di PT BMT, salah satu eksportir di Makassar. Direktur Utama PT BMT Risnaldy mengatakan, perusahaannya hanya mengekspor 1.000 ton biji kakao ke Malaysia tahun lalu. Jumlah itu menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar 3.500 ton. (RIZ)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau