Bulu tangkis

Ganda Putra Punya Banyak Pilihan Strategi

Kompas.com - 02/02/2012, 03:22 WIB

Jakarta, Kompas - Tim Thomas Indonesia punya banyak pilihan strategi di sektor ganda. Dengan materi pemain yang kekuatannya hampir merata, rotasi pemain dan pergantian pasangan sangat memungkinkan.

”Kondisi ini menguntungkan karena kami bisa memilih pasangan yang karakternya sesuai dengan lawan kami. Ini juga menguntungkan untuk merotasi pemain sehingga stamina mereka sudah cukup bugar ketika harus tampil lagi,” kata pelatih ganda putra pelatnas PBSI, Herry IP, di sela-sela latihan tim di Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (1/2).

Untuk sektor ganda, tim Thomas Indonesia diisi pasangan Bona Septano/Muhammad Ahsan, Hendra AG/Alvent Yulianto, dan juara Olimpiade Beijing, Markis Kido/Hendra Setiawan.

Herry menambahkan, strategi pergantian pasangan bisa dilakukan baik ketika tim Indonesia menghadapi tim lemah ataupun tim kuat, seperti Malaysia, Korea Selatan, atau China. ”Keuntungan dari strategi ini ketika melawan tim kuat adalah bisa mengejutkan lawan karena mereka tak akan mudah membaca permainan pemain kita,” kata Herry.

Pada Piala Sudirman tahun 2011, strategi ini berjalan dengan baik saat Indonesia menghadapi Denmark di semifinal. Ketika itu tim Indonesia memasangkan Alvent dengan Ahsan. Hasilnya, mereka berhasil mencuri kemenangan dari pemain nomor satu dunia andalan Denmark, Mathias Boe/Carsten Mogensen, 23-21, 21- 17.

Untuk babak penyisihan Piala Thomas di Makau tanggal 13-19 Februari mendatang, Indonesia tergabung di Grup B bersama India, Singapura, dan tuan rumah Makau. Dari hitung-hitungan kekuatan, Indonesia seharusnya bisa juara grup.

Jika skenario ini mulus, di perempat final tim ”Merah Putih” kemungkinan akan melawan Malaysia, yang diperkirakan akan keluar sebagai runner-up Grup D. Dilihat dari materi pemain, Malaysia punya keunggulan di tunggal pertama yang akan menurunkan pemain nomor satu dunia, Lee Chong Wei. Sementara di ganda, mereka punya pasangan nomor enam dunia, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong.

Dua tunggal dan satu ganda lainnya seharusnya bisa dikuasai Indonesia. Jika mau aman, pemain ganda pertama harus bisa menaklukkan pasangan Koo/ Tan. Peran ini bisa diambil pasangan Bona/Ahsan. Karena dari lima kali pertemuan, mereka menang dalam tiga pertemuan terakhir.

Jika Indonesia lolos dari hadangan Malaysia, target tiket putaran final di Wuhan akan berada dalam genggaman. Namun, untuk bisa tampil sebagai juara di babak penyisihan di Makau, Indonesia harus bersiap melawan Korsel dan China.

Faktor kelemahan

Meski secara materi pemain ganda kita cukup kuat, tetap tidak akan mudah ketika harus berhadapan dengan para pemain China ataupun Korea. Menurut Herry, kelemahan yang menonjol ganda putra kita adalah sistem permainan bertahan.

Oleh karena itu, kata Herry, fokus latihan pemain dititikberatkan pada kemampuan mengatasi tekanan dan kecepatan merespons serangan lawan. Seperti yang dipergakan dalam latihan kemarin, setiap pasangan diadu dalam permainan dengan menghadapi tiga pemain.

Tim Indonesia punya kesempatan latihan selama sepekan sebelum berangkat ke Makau pada 9 Februari mendatang. (OTW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau