Cuaca ekstrem

Cuaca Buruk Mestinya Ditetapkan Jadi Bencana Nasional

Kompas.com - 02/02/2012, 14:29 WIB

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com — Pemerintah diminta menetapkan kondisi cuaca buruk yang sangat merugikan nelayan di Tanah Air beberapa waktu terakhir ini sebagai bencana nasional. Dengan demikian, hal itu diharapkan mampu memobilisasi sumber daya, teknologi, dan pendanaan untuk menghadapi bencana cuaca ekstrem ini.

Desakan ini disampaikan Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) dan sejumlah perwakilan nelayan dalam siaran pers, Kamis (2/2/2012).

Menurut Sekretaris Jendral Kiara, M Riza Damanik, cuaca buruk sebulan terakhir telah mengakibatkan kerugian bagi nelayan.

Sekitar 5.000.000 nelayan di Tanah Air tidak bisa melaut, serta ratusan rumah, alat tangkap, dan perahu mereka rusak. Yang dikhawatirkan, sesuai prakiraan musim, kondisi ini akan berlangsung hingga Februari ini. Namun, yang disesalkan, sikap pemerintah masih biasa-biasa saja menyikapi kondisi gawat ini.

Menurutnya, Undang-Undang Penanggulangan Bencana menetapkan sejumlah indikator untuk menetapkan sejumlah bencana nasional. "Bencana cuaca ekstrem kali ini bisa ditetapkan sebagai bencana nasional karena semacam ini nyaris tidak pernah terjadi sebelumnya," tuturnya.

Penetapan bencana nasional penting untuk mengoptimalkan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah maupun lintas sektor pemerintah dalam upaya menjamin terpenuhinya hak-hak dasar korban, dalam hal ini nelayan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau