Safee Sali, bintang sepak bola Malaysia, kini mendapat julukan baru, ”Pria Juta Dollar” (The Million-Dollar Man
Striker berusia 28 tahun itu dilaporkan meraup kontrak senilai lebih dari 2 juta ringgit (Rp 5,9 miliar), yang membuatnya bisa digaji hingga 30.000 dollar AS (Rp 267,9 juta) per bulan, plus bonus, fasilitas rumah, dan kendaraan pribadi dengan sopir. Safee jadi miliarder sepak bola pertama di Malaysia.
Namun, pilihan itu bukannya tanpa risiko dan mungkin harus dibayar mahal. Sejumlah kalangan di negerinya, termasuk Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM), merasa waswas, Safee tidak bisa lagi memperkuat tim nasional Malaysia.
Rasa waswas itu terkait status klubnya, Pelita Jaya, salah satu peserta Liga Super Indonesia (LSI) yang dinyatakan FIFA sebagai liga breakaway karena tidak berada di bawah naungan PSSI. Pada 21 Desember 2011, FIFA mengeluarkan surat yang berisi tidak diperbolehkannya para pemain di klub-klub LSI memperkuat tim nasional mereka. FIFA juga menyebutkan, mereka juga tidak bisa ditransfer ke luar negeri.
Menurut The Star, FAM pernah meminta Safee agar meninggalkan Pelita Jaya untuk menghindari larangan FIFA memperkuat Malaysia. Selain dari Pelita Jaya, ia sebenarnya menerima tawaran dari Muang Thong FC dan Buriram FC (Thailand) serta empat klub Malaysia.
Namun, Safee bergeming. ”Saya ingin ucapkan terima kasih kepada manajemen Pelita. Saya menerima banyak tawaran dari klub luar, tetapi saya hormati semua pihak yang ada di Pelita Jaya. Selama Pelita membutuhkan saya, saya akan tetap bertahan di sini,” katanya tegas.
Zakaria Rahim, agen Safee, menepis anggapan soal sanksi FIFA kepada pemainnya karena pihaknya menandatangani kontrak yang benar. ”Berita bahwa LSI sudah dilarang tidak benar. Kariernya (Safee) tidak terancam,” kata Zakaria kepada The Star yang dikutip Reuters, Kamis.
”Dalam skenario terburuk, jika LSI dilarang, Safee punya opsi bergabung dengan klub-klub satu kepemilikan dengan Pelita Jaya (di Indonesia) dan luar negeri,” kata Zakaria. Kelompok Bakrie, pemilik Pelita Jaya, mempunyai klub di Australia (Brisbane Roar FC) dan Belgia (CS Vise).
Meski demikian, Malaysia tetap cemas. Dalam siaran pers 18 Januari 2012, FAM tidak mencantumkan Safee dalam daftar 26 pemain yang akan memperkuat Malaysia dalam uji coba. Padahal, Safee aset berharga sepak bola negeri jiran itu.
Ia ikut mengharumkan sepak bola negeri itu dengan membawa Malaysia untuk pertama kalinya juara Piala AFF 2010. Golnya di final ajang tersebut memupus impian Indonesia.
Safee pernah mendapat tawaran dari klub Wales, Cardiff City, tapi enggan menerima karena harus bermain di klub yang berafiliasi dengan Cardiff minimal satu tahun sebelum memperoleh izin kerja. Sebelumnya, ia juga ditawari menjalani uji coba dengan lima klub Jerman. Kini, Safee telah memilih jalan dan, mungkin, telah memikirkan risikonya.