Sepak bola

Safee Sali, Jutawan dan Risiko Sanksi FIFA

Kompas.com - 03/02/2012, 02:38 WIB

Safee Sali, bintang sepak bola Malaysia, kini mendapat julukan baru, ”Pria Juta Dollar” (The Million-Dollar Man). Julukan ini diberikan koran Malaysia, The Star, Kamis (2/2), terkait perpanjangan kontrak Safee hingga dua tahun ke depan di klub Pelita Jaya.

Striker berusia 28 tahun itu dilaporkan meraup kontrak senilai lebih dari 2 juta ringgit (Rp 5,9 miliar), yang membuatnya bisa digaji hingga 30.000 dollar AS (Rp 267,9 juta) per bulan, plus bonus, fasilitas rumah, dan kendaraan pribadi dengan sopir. Safee jadi miliarder sepak bola pertama di Malaysia.

Namun, pilihan itu bukannya tanpa risiko dan mungkin harus dibayar mahal. Sejumlah kalangan di negerinya, termasuk Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM), merasa waswas, Safee tidak bisa lagi memperkuat tim nasional Malaysia.

Rasa waswas itu terkait status klubnya, Pelita Jaya, salah satu peserta Liga Super Indonesia (LSI) yang dinyatakan FIFA sebagai liga breakaway karena tidak berada di bawah naungan PSSI. Pada 21 Desember 2011, FIFA mengeluarkan surat yang berisi tidak diperbolehkannya para pemain di klub-klub LSI memperkuat tim nasional mereka. FIFA juga menyebutkan, mereka juga tidak bisa ditransfer ke luar negeri.

Menurut The Star, FAM pernah meminta Safee agar meninggalkan Pelita Jaya untuk menghindari larangan FIFA memperkuat Malaysia. Selain dari Pelita Jaya, ia sebenarnya menerima tawaran dari Muang Thong FC dan Buriram FC (Thailand) serta empat klub Malaysia.

Namun, Safee bergeming. ”Saya ingin ucapkan terima kasih kepada manajemen Pelita. Saya menerima banyak tawaran dari klub luar, tetapi saya hormati semua pihak yang ada di Pelita Jaya. Selama Pelita membutuhkan saya, saya akan tetap bertahan di sini,” katanya tegas.

Zakaria Rahim, agen Safee, menepis anggapan soal sanksi FIFA kepada pemainnya karena pihaknya menandatangani kontrak yang benar. ”Berita bahwa LSI sudah dilarang tidak benar. Kariernya (Safee) tidak terancam,” kata Zakaria kepada The Star yang dikutip Reuters, Kamis.

”Dalam skenario terburuk, jika LSI dilarang, Safee punya opsi bergabung dengan klub-klub satu kepemilikan dengan Pelita Jaya (di Indonesia) dan luar negeri,” kata Zakaria. Kelompok Bakrie, pemilik Pelita Jaya, mempunyai klub di Australia (Brisbane Roar FC) dan Belgia (CS Vise).

Meski demikian, Malaysia tetap cemas. Dalam siaran pers 18 Januari 2012, FAM tidak mencantumkan Safee dalam daftar 26 pemain yang akan memperkuat Malaysia dalam uji coba. Padahal, Safee aset berharga sepak bola negeri jiran itu.

Ia ikut mengharumkan sepak bola negeri itu dengan membawa Malaysia untuk pertama kalinya juara Piala AFF 2010. Golnya di final ajang tersebut memupus impian Indonesia.

Safee pernah mendapat tawaran dari klub Wales, Cardiff City, tapi enggan menerima karena harus bermain di klub yang berafiliasi dengan Cardiff minimal satu tahun sebelum memperoleh izin kerja. Sebelumnya, ia juga ditawari menjalani uji coba dengan lima klub Jerman. Kini, Safee telah memilih jalan dan, mungkin, telah memikirkan risikonya. (REUTERS/SAM)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau