SIDOARJO, KOMPAS -
Kepala Humas Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) Akhmad Kusairi mengatakan, ancaman utama dari tanggul lumpur Lapindo tersebut saat ini bukan berasal dari semburan lumpur yang volumenya sudah jauh menurun. Jika pada awal semburan tahun 2006 volume semburan lumpur bisa mencapai 150.000 meter kubik per hari, kini volumenya di kisaran 10.000 meter kubik-15.000 meter kubik per hari. Adapun volume lumpur yang tertampung dalam kolam lumpur tersebut mencapai sekitar 60 juta meter kubik.
”Ancaman sekarang datang dari gunung lumpur yang labil. Di lapisan permukaan memang lumpur sudah kering, tapi di bagian bawah masih cair sehingga gunung lumpur itu longsor. Tadi longsorannya melimpas ke arah tanggul titik 21,” ujarnya.
Longsoran gunung lumpur itu bisa mendesak tanggul sehingga berdampak pada ambrolnya tanggul. Potensi longsor itu semakin kuat karena ketinggian lumpur terus bertambah.
Saat ini jarak permukaan lumpur di tanggul titik 21 dengan permukaan tanggul tinggal mencapai 50 sentimeter. Lokasi titik 21 di Desa Siring, Kecamatan Porong, ini sejajar dengan rel kereta api dan Jalan Raya Porong.
Menurut Kusairi, hujan deras yang mengguyur wilayah Sidoarjo dan sekitarnya selama beberapa minggu terakhir membuat potensi longsor makin tinggi. Oleh karena itu, BPLS kembali memperkuat dan mempertinggi tanggul di kawasan tersebut. ”Sekarang masih dikerjakan, tanggul di titik 21 ditinggikan dari 11 meter jadi 12 meter. Panjangnya sekitar 300 meter,” tuturnya.
Salam, warga Desa Siring, menuturkan, setiap hari ketinggian lumpur di dalam tanggul selalu meningkat. Permukaannya tidak rata sehingga mudah longsor. ”Lumpur yang di pusat semburan, kan, lebih tinggi dari yang di pinggir, makanya sewaktu-waktu bisa longsor,” katanya. BPLS diminta segera mengambil tindakan, misalnya dengan mengalirkan lumpur ke kolam penampungan yang lebih rendah.