Benarkah Penggunaan Obat Diabetes Picu Kanker?

Kompas.com - 03/02/2012, 17:05 WIB

JAKARTA,KOMPAS.com - Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan obat-obatan untuk penyakit diabetes berkaitan dengan risiko kanker pankreas.  Penggunaan obat seperti insulin, metformin dan sulfonylurea, termasuk glimepiride and glyburide, diteliti hubungannya dalam meningkatkan risiko kanker pankreas.

Seperti dikutip Reuters, dalam risetnya, Dr Christoph Meier dari University Hospital Basel, Swiss dan rekannya mengindikasikan ada hubungan antara penggunaan obat-obat diabetes dengan  kasus kanker.  Meier  melakukan kajian database lebih dari delapan juta orang pasien di Inggris, di mana sekitar 2.800 di antaranya didiagnosis menderita kanker pankreas pada tahun 1995-2009.

Temuan yang dipublikasikan dalam American Journal of Gastroenterology menunjukkan bahwa mereka obat diabetes seperti insulin dan sulfonylureas berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker pankreas. Sedangkan obat jenis lainnya seperti metformin justru berkaitan dengan rendahnya kasus kanker pankreas pada kaum wanita.

Dr. Peter Butler, peneliti diabetes dari University of California, Los Angeles David Geffen School of Medicine, yang tidak terlibat dalam penelitian, berpendapat bahwa penelitian ini sejalan dengan hasil riset sebelumnya yang menyebutkan bahwa metformin menurunkan risiko berbagai jenis kanker .

Sementara itu Dr. Ronald Hukom Sp.PD- KHOM, spesialis penyakit kanker dari Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, yang diminta pendapatnya mengenai penggunaan obat-obatan diabetes mengatakan, pada dasarnya setiap obat memiliki efek samping. Tetapi hal itu tidak akan memberikan efek buruk, apabila pemakaiannya dilakukan secara tepat.

"Pemakaian yang tidak tepat pasti ada efek samping yang merusak," katanya, saat ditemui dalam acara Temu Jurnalis di Kongres Nasional PERHOMPEDIN I, Jumat, (3/2/2012) lalu.

Menurut Ronald, setiap obat punya efek samping berbahaya jika dalam penggunannya tidak mengikuti prosedur yang berlaku. Ia mengambil contoh penggunaan obat kemoterapi. Obat kemoterapi dapat dikategorikan obat yang berbahaya karena bisa mendatangkan kanker.

"Artinya, setelah beberapa tahun memakai obat kemoterapi seseorang bisa kena kanker. Tapi dengan pemberian dosis yang tepat dan sesuai, hal itu tidak akan membahayakan," katanya.

Ia juga mengimbau agar setiap dokter memberikan penjelasan kepada pasien tentang efek samping yang mungkin bisa ditimbulkan akibat konsumsi obat-obatan yang diberikan. Hal ini dimaksudkan agar pasien juga dapat menggunakannya dengan batas yang wajar.

Catatan  :

Dalam judul dan badan berita sebelumnya disebutkan bahwa penggunaan Metformin berkaitan dengan peningkatkan risiko kanker pankreas.  Setelah dikonfirmasi ke berbagai pihak, penyataan tersebut keliru dan sumber data penelitiannya menyebutkan Metformin justru berkaitan dengan kasus kanker pankreas yang lebih rendah setidaknya di kalangan perempuan.  

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau