SOLO, KOMPAS.com - Bank Mandiri menargetkan meningkatkan penetrasinya dalam penggunaan uang elektronik (e-money) hingga 25 persen pada sektor transportasi, yakni melalui e-toll.
Penetrasi Bank Mandiri saat ini 10 persen terhadap pengguna tol. Bank Mandiri adalah bank yang bekerja sama dengan PT Jasa Marga untuk penyelenggaraan e-toll.
Hal ini dikatakan Senior Vice President Bank Mandiri Rico Usthavia Frans usai penandatanganan penggunaan kartu prabayar Mandiri pada Batik Solo Trans di rumah dinas wali kota Solo, Jumat (3/2/2012).
"Menteri BUMN Dahlan Iskan memberi target kepada kami agar dalam waktu enam bulan ke depan, penetrasi Bank Mandiri terhadap pengguna tol meningkat menjadi 20-25 persen," kata Rico.
Untuk mencapai target ini, menurut Rico, ada beberapa hal yang akan dilakukan pihaknya, yakni perbaikan infrastruktur dan pemasaran. Beberapa program yang telah dirancang, antara lain diskon 10 persen untuk e-toll dari operator jalan tol serta gratis e-toll bagi 1.000 pemenang setiap bulannya.
Saat ini, di Indonesia setiap bulannya tercatat ada tiga juta transaksi dengan uang elektronik. Menurut Rico, dari jumlah itu, sebesar 70 persennya dikuasai oleh Bank Mandiri. Sebesar 90 persen transaksi uang elektronik kami disumbangkan dari e-toll. Itu sebabnya, kami digenjot untuk meningkatkan penetrasi pasar di sektor transportasi in i karena masih banyak pengguna tol yang belum menggunakan uang elektronik untuk membayar tol, kata Rico.
Menurut Rico, penggunaan uang elektronik di Indonesia tergolong masih rendah. Bandingkan dengan negara tetangga, seperti Singapura yan g mencatatkan 10 juta transaksi uang elektronik per bulan dan Hongkong dengan 20 juta transaksi uang elektronik per bulan.
Pemimpin Kantor Bank Indonesia Solo Doni P Joewono mengatakan, pihaknya mendorong masyarakat memanfaatkan penggunaan uang elektronik karena dapat menghemat pengeluaran anggaran negara untuk mencetak uang.
Namun diakuinya, masyarakat saat ini masih terbiasa dan nyaman bertransaksi dengan uang tunai. Ia mencontohkan di Kota Solo yang perekonomiannya cukup dinamis. Dari nilai transaksi per tahun yang mencapai Rp 43 triliun, sebesar Rp 8 triliun menggunakan uang tunai atau 0,18 persen.
"Kami mendukung uang elektronik, tidak hanya untuk sektor transportasi tetapi juga di bidang ritel," kata Doni.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang