Pariwisata

Bandara Menunjang Wisata Derawan

Kompas.com - 03/02/2012, 23:11 WIB

TANJUNG REDEB, KOMPAS.com - Pemerintah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, memprioritaskan percepatan pembangunan bandara di Pulau Maratua dan Tanjung Redeb.

Itu dilakukan untuk menunjang kunjungan wisatawan ke Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Bandara itu juga dipersiapkan menyambut Sail Derawan 2013.

Bupati Berau, Makmur, mengatakan, kedua bandara ini ditargetkan dapat beroperasi pada tahun 2013. Bandara Kalimarau yang sekarang ada akan dikembangkan menjadi bandara internasional. Sementara bandara baru dibangun di Pulau Maratua, yang masuk dalam gugusan Kepulauan Derawan.  

"Bandara kan sebagai salah satu infrastruktur pendukung, untuk mempermudah wisatawan yang akan pergi ke Derawan sehingga mereka senang datang ke Berau," ujar Makmur, di Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, Jumat (3/2/2012).

Kepulauan Derawan yang terkenal dengan keindahan bawah lautnya, merupakan salah satu tujuan wisata bahari terkemuka di Indonesia, selain Raja Ampat dan Wakatobi. Terdapat empat pulau utama, yakni Derawan, Kakaban, Sangalaki, dan Maratua.

Bandara Kalimarau di Tanjung Redeb sebagai pusat Kabupaten Berau, saat ini memiliki landasan pacu sepanjang 2.600 meter dan lebar 30 meter. Biasanya hanya pesawat jenis ATR dan Boeing 737-500 yang dapat mendarat di Kalimarau.

Agar dapat didarati pesawat berbadan besar seperti Boeing 737-900 dan Airbus A330, landasan pacu akan diperlebar menjadi 45 meter dengan panjang 3.000 meter. Terminal penumpang juga akan diperbesar. Total anggaran mencapai Rp 600 miliar dari APBD Berau.

"Saat ini terminal penumpang sedang dibangun. Izin-izin dan keperluan bea cukai juga sedang diurus. Harapannya selesai tahun 2013, sehingga dapat digunakan untuk Sail Derawan," ucap Makmur.

Adapun Bandara Maratua yang saat ini sedang dibangun rencananya memiliki landasan pacu sepanjang 1.500 meter, dan dapat didarati pesawat jenis ATR yang berkapasitas 30-50 penumpang. Pembangunannya diperkirakan menghabiskan anggaran hingga Rp 200 miliar.

Menurut Makmur, dengan dibangunnya bandara ini turis dapat langsung terbang ke Pulau Maratua dari Tanjung Redeb. Biasanya, perjalanan ke Maratua memakan waktu enam jam dengan kapal cepat dari Tanjung Redeb atau dua jam dari Pulau Derawan. " Pembangunannya bisa lebih cepat karena pondasi tanahnya kuat," kata Makmur.

Wisatawan yang pergi ke Kepulauan Derawan umumnya untuk menikmati keindahan pantai, melihat penyu hijau (Chelonia mydas) di Derawan dan Maratua, serta menyelam untuk menyaksikan ubur-ubur tanpa sengat di Kakaban dan ikan pari di Sangalaki.

Hasanul Arif (34), pengelola Derawan Beach Coffe and Cottage, mengatakan, wisatawan umumnya memenuhi Derawan pada masa liburan sekolah, Lebaran, dan Tahun Baru. Selain wisatawan asing, kebanyakan turis berasal dari Jakarta, Balikpapan, Samarinda, dan Tarakan.

Setelah bandara internasional beroperasi, Makmur akan menjajaki kemungkinan penerbangan langsung dari Berau menuju Kota Kinabalu dan Tawau, Malaysia, dan sebaliknya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau