Pulau Buru Diserbu Ribuan Pendulang Emas

Kompas.com - 04/02/2012, 03:51 WIB

AMBON, KOMPAS - Pulau Buru, Provinsi Maluku, didatangi ribuan pendulang emas tradisional dari sejumlah daerah setelah emas ditemukan di Wansait, Kecamatan Waeapo, dua bulan yang lalu. Mereka bergabung bersama ribuan warga setempat beralih profesi menjadi pendulang.

Kepala Badan Lingkungan Hidup dan Pertambangan Kabupaten Buru Jusdi Latuconsina yang dihubungi dari Ambon, Maluku, Jumat (3/2), mengatakan, para pendulang itu datang dari Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan. Mereka datang secara bergelombang ke Pulau Buru dengan menggunakan kapal laut.

”Tidak hanya pendulang, pembeli atau pengepul emas dari sejumlah daerah pun berdatangan. Diperkirakan, ada sekitar 10.000 orang di sana,” kata Jusdi, yang baru kembali dari Pulau Buru. Wansait berjarak sekitar 40 kilometer dari Namlea, ibu kota Kabupaten Buru.

Yanto (40), warga Waeapo, menambahkan, pendulang dari luar Pulau Buru bergabung dengan ribuan warga setempat yang memilih beralih profesi setelah emas ditemukan. ”Petani, tukang ojek, bahkan sampai guru beralih profesi menjadi pendulang emas sekarang,” katanya lagi.

Mereka tergiur pendapatan dari mendulang emas. Tiap orang bisa mendapatkan emas berkisar 3 gram sampai 3 kilogram, dijual seharga Rp 370.000 per gram.

”Emas hasil dulangan tidak sulit dijual karena pengepul dari luar, seperti Ambon dan Sulawesi, juga berdatangan ke Wansait,” ujarnya.

Menurut Yanto, semula pencarian emas hanya pada tanah di permukaan. Namun, kini mulai digali terowongan hingga kedalaman sampai 14 meter.

Menurut Jusdi, penambangan emas secara tradisional itu membahayakan, termasuk bagi lingkungan. ”Pekan lalu, tiga orang tertimbun longsoran saat mendulang, untungnya mereka masih bisa diselamatkan. Namun, mereka tetap menambang emas di sana,” katanya menambahkan.

Pendulangan emas secara tradisional dilakukan dengan menggunakan bahan kimia. Pohon pun ditebang.

”Pemerintah sudah berupaya melarang penambangan itu mengingat bahaya yang mungkin terjadi, tetapi larangan tidak mereka gubris,” katanya. Rencananya, pemerintah akan kembali rapat dengan aparat keamanan dan tokoh masyarakat setempat untuk membahas nasib penambangan emas Wansait.

Sejauh ini, pemerintah belum meneliti kandungan emas di sana. Penelitian menunggu tim ahli dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Maluku. Tim ahli ini diharapkan karena pihaknya tidak mampu meneliti kandungan emas.

Cabut izin

Di Gorontalo, Pemerintah Kabupaten Bone Bolango mengancam mencabut izin lima perusahaan tambang karena tak melaporkan kegiatan mereka kepada pemerintah setempat. Pemerintah menilai operasional kelima perusahaan itu tidak jelas. Para pemerhati lingkungan mendesak pemerintah daerah mencabut izin usaha pertambangan di kawasan konservasi karena dinilai merusak lingkungan.

”Sejak proses perizinan hingga sekarang, belum ada laporan tentang kegiatan perusahaan-perusahaan tersebut. Bahkan, analisis mengenai dampak lingkungan pun belum kami terima. Jika hingga pertengahan tahun ini tidak ada laporan sama sekali, kami akan mencabut izin operasional perusahaan tersebut,” kata Pelaksana Tugas Bupati Bone Bolango Hamim Pou, Jumat (3/2), di Gorontalo.

Kelima perusahaan itu adalah PT Liquindo Persada, PT Tilongkabila Nusantara Indonesia, PT Celebes Bone Mineral, PT Eksplorasi Indonusa Jaya, dan PT Panah Emas. Kelima perusahaan itu mengantongi izin usaha pertambangan dari Pemerintah Kabupaten Bone Bolango untuk durasi rata-rata hingga delapan tahun. Adapun luas wilayah kelola kelima perusahaan tersebut bervariasi, dari 4.000 hektar hingga 8.000 hektar. (APA/APO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau