Manado

Penjahat Perlu Ditembak di Tempat?

Kompas.com - 04/02/2012, 04:19 WIB

MANADO, KOMPAS.com - Aksi pencurian dan perampokan yang akhir-akhir ini marak di Kota Manado membuat Wakil Wali Kota Manado Harley Mangindaan gerah. Putra Menteri Perhubungan EE Mangandiaan itu mengusulkan agar pelaku kejahatan ditembak di tempat.

"Banyak masukan dari masyarakat kepada kami untuk disampaikan ke Polresta yang meminta pelaku kejahatan ditembak di tempat agar mereka jera," ujar pria yang akrab disapa Ai ini, Jumat (3/2/2012).

Namun demikian, Ai menyadari, polisi memiliki prosedur tersendiri dalam menindak pelaku kejahatan. Ia pun berupaya untuk terus meningkatkan keamanan di Kota Manado, yang bukan hanya terjadi pada malam hari, namun juga siang hari. Berdasarkan pengamatannya, tindak kejahatan dan kriminal terjadi bukan hanya pada malam hari, melainkan juga siang hari.

"Untuk itu warga harus peduli menjaga keamanan, bukan hanya pada malam hari, melainkan pula siang hari, 1 x 24 jam," ungkapnya.

Satu di antaranya tetap menjaga lingkungan dengan lebih mengaktifkan siskamling. Pelaku kejahatan akan berpikir dua kali, jika warga peduli pada keamanan lingkungan.

"Masyarakat tetap tenang, namun waspada, karena awal tahun ini kejahatan meningkat," kata Ai.

Menanggapi usulan Ai tersebut, Kapolresta Manado Kombes Amran Ampulembang mengatakan bahwa tembak di tempat bisa dilakukan apabila situasinya memang mendesak untuk dilakukan. Ampulembang mengatakan, jika situasinya memang harus melakukan tindakan tembak di tempat bagi para pelaku kejahatan maka akan dilakukan. Apalagi, jika sudah membahayakan diri dan orang lain.

"Dilihat konteksnya. Kalau memang situasinya mendesak bisa dilakukan, apalagi membahayakan orang dan membahayakan diri, bisa dilakukan," kata Ampulembang.

"Semua ada aturannya dan semua harus sesuai aturan hukum yang ada," katanya.

Di mata pakar psikologi otak, Taufik Pasiak berpendapat, kehidupan modern di sebuah masyarakat membawa setiap orang terseret terhadap perilaku individual. Terutama di Kota Manado, perkembangan kotanya yang pesat telah berbanding lurus dengan tindakan kriminal.

"Orang kini lebih cenderung individu. Spiritual hampir dilupakan, inilah yang buat rawan terjadinya aksi-aksi negatif," ujarnya dalam diskusi.

Akibatnya, lanjut dia, Kota Manado yang mendambakan sebagai kota ekowisata akan tercoreng.

"Orang ingin berwisata ke Manado akan berpikir panjang kalau kriminalnya tinggi," ungkapnya.

(ERV/ALD/BDI/Prawira Maulana)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau