Sungguh menarik komentar Duta Besar Pakistan untuk PBB Abdullah Haroon soal keputusan Rusia dan China yang memveto resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai Suriah. Abdullah Haroon mengutip pernyataan PM Inggris Sir Winston Leonard Spencer-Churchill (1940-1945 dan 1951-1955), yang dikenal sebagai orator ulung.
Veto Rusia dan China itu mengingatkan dia akan ”Pontius Pilatus yang mencuci tangannya dan mengatakan, ’Saya tidak ada urusan dengan masalah ini’”. Bahkan, yang lebih menarik lagi, Dubes Suriah untuk PBB Bashar Jaafari mengatakan, negara yang memvoting resolusi itu ”telah menjual jiwa mereka kepada setan” (The Christian Science Monitor, 4/2).
Hari Sabtu lalu, DK PBB mengambil suara untuk rancangan resolusi yang mula pertama diusulkan Liga Arab dan didukung AS dan Uni Eropa untuk menghentikan pertumpahan darah di Suriah. Sebanyak 13 dari 15 negara anggota DK PBB mendukung resolusi itu dan hanya Rusia dan China yang menentangnya, bahkan memvetonya.
Apakah Rusia dan China menutup mata terhadap begitu banyak korban jiwa di Suriah? Menurut PBB, sudah sekitar 6.000 orang tewas. Bahkan, hari Jumat lalu, sehari sebelum DK mengadakan pemungutan suara untuk resolusi Suriah, diberitakan tentara menewaskan 200 orang, yang ikut serta dalam peringatan 30 tahun tragedi Hama.
Tragedi Hama terjadi pada zaman Hafez al-Assad, ayah Bashar al-Assad, pada 1982. Hafez memerintahkan penumpasan pergolakan kelompok Muslim Brotherhood (Persaudaraan Muslim) yang mulai berkembang pada akhir tahun 1970-an di Hama, sebagai cabang dari Muslim Brotherhood Mesir.
Dalam Authoritarianism in the Middle East, Regimes and Resistance dengan editor Marsha Pripstein Posusney dan Michele Penner Angrist disebutkan, Muslim Brotherhood menghendaki reformasi politik, termasuk diberikannya hak-hak warga negara, pengakhiran penyiksaan yang biasa dilakukan rezim berkuasa terhadap siapa saja yang dianggap melawan, dan penegakan rule of law.
Pada Februari 1982, Muslim Brotherhood menyerang unit militer Suriah yang sedang mencari anggota oposisi di Hama dan mengambil alih serta menguasai kota. Hafez al-Assad menjawab aksi itu dengan mengirimkan 12.000 tentara.
Operasi penumpasan pergolakan di Hama berlangsung selama tiga minggu. Hama dikepung tentara yang dipersenjatai dengan tank. Helikopter-helikopter terus-menerus menerjunkan tentara dan menghancurkan wilayah permukiman.
Menurut istilah Patrick Seale dalam Assad: The Struggle for the Middle East (1988), pertempuran di Hama menjadi ”pertempuran terakhir, yang mana salah satu pihak atau pihak lain harus memenanginya dan yang mana, salah satu, akan menentukan nasib negara”.
Pergolakan di Hama berubah menjadi perang saudara karena tentara yang berasal dari wilayah itu membelot dan berbalik melawan pemerintah. Jumlah korban tewas dalam pergolakan di Hama hingga kini masih menjadi bahan perdebatan. Mereka yang simpati kepada pemerintahan Hafez al-Assad waktu itu, menyatakan korban tewas sekitar 3.000 orang.
Namun, para pengkritik Hafez al-Assad meyakini korban tewas mencapai 20.000 orang. Ada lagi yang menyebutkan tentara Suriah membunuh 10.000 penduduk Hama. Fareed Zakaria dalam The Future of Freedom menulis, ”Suriah menjadi salah satu negara polisi paling opresif di dunia, sebanyak 30.000 orang dibunuh rezim yang berkuasa tanpa konsekuensi apa pun, seperti yang terjadi pada tahun 1982 di kota Hama.”
Kini, setelah Rusia dan China memveto resolusi DK PBB tentang Suriah, bukan mustahil tragedi itu akan berulang lagi. Perang saudara bisa saja terjadi lagi. Jika itu terjadi, Rusia dan China harus ikut bertanggung jawab.