Bajak Laut Somalia Ini Berjari Enam

Kompas.com - 07/02/2012, 10:38 WIB

MOGADISHU, KOMPAS.com — Seorang bajak laut Somalia yang dijuluki "Joe Berjari Kaki Enam", karena dua kakinya masing-masing berjari enam, ditangkap Angkatan Laut Kerajaan Inggris.

Bajak laut terkenal itu, yang kedua tangannya juga masing-masing berjari enam akibat kondisi polydactyly yang jarang, ditahan bersama 13 orang lainnya pada bulan lalu. Tumpukan senjata, termasuk sejumlah peluncur roket dan granat tangan, ditemukan di kapal nelayan Yaman yang dibajak kelompok tersebut. Mereka tertangkap dalam sergapan Angkatan Laut Inggris di Samudra Hindia. Kini para bajak laut itu menghadapi ancaman hukuman penjara bertahun-tahun.

Sebuah sumber di Angkatan Laut Inggris kepada harian The Sun, sebagaimana dikutip Daily Mail, Senin (6/2/2012), mengatakan, "Kami akhirnya menangkap bajak laut itu, yang memiliki 12 jari kaki dan 12 jari tangan. Ini merupakan tangkapan besar bagi Angkatan Laut Kerajaan. Dia merupakan Long John Silver masa kini. Ketika Anda memikirkan perompak, Anda membayangkan kaki-kaki palsu, bukan jari kaki atau tangan yang kebanyakan, tetapi rumor itu terbukti menjadi kenyataan."

Jika bajak laut itu, yang diserahkan kepada polisi Seychelles pada pekan lalu, tinggal di Barat, ia bisa menjalani operasi sederhana untuk membuang empat jari tambahannya itu. Namun, sistem kesehatan di Somalia yang dilanda perang diyakini tidak melayani persoalan medis yang dialami bajak laut tersebut.

Angkatan Laut Inggris sedang melakukan misi selama empat bulan bersama gugus tugas kontra-pembajakan NATO dengan sandi Operation Ocean Shield. Kapten Gerry Northwood, yang memimpin operasi itu, mengatakan, mereka telah menangkap lebih dari 30 pembajak dan menyelamatkan 44 pelaut.

Menteri Luar Negeri Inggris William Hague memuji operasi itu dan mengatakan, "Kami sangat berterima kasih atas kesepakatan mereka untuk menuntut para tersangka pembajak itu. Komitmen mereka untuk melawan telah membantu menghindari situasi di mana individu-individu itu tidak dimintai pertanggungjawaban atas tindakan mereka."

Berita penangkapan "Joe Berjari Kaki Enam" itu muncul menyusul lawatan Hague ke Somalia pada pekan lalu saat ia menyerukan perang melawan terorisme yang berasal dari negara itu. Sebagai menteri luar negeri Inggris pertama yang mengunjungi Somalia dalam 20 tahun terakhir, kunjungan itu dipandang sebagai dorongan diplomatik besar untuk membawa stabilitas ke negara yang pernah digambarkan sebagai "negara paling gagal di dunia" itu.

Hague mengenakan helm tempur dan rompi antipeluru serta mendapat pengawalan ketika melintasi Mogadishu, ibu kota Somalia, untuk bertemu dengan Presiden Somalia Sheikh Sharif Sheikh Ahmed. Hague kemudian memperkenalkan Matt Baugh, duta besar pertama Inggris untuk negara itu sejak negara tersebut runtuh ke dalam kekacauan dan perang saudara pada 1991, kepada Presiden Ahmed.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau