Pilkada dki jakarta

Skandal Wisma Atlet Tak Halangi Laju Alex Noerdin

Kompas.com - 07/02/2012, 17:29 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Mendekati masa pendaftaran calon Gubernur DKI Jakarta dari jalur partai politik, Partai Golongan Karya (Golkar) makin banyak memunculkan nama calon. Salah satu calon itu adalah Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin.

Menurut beberapa survei, nama Alex cukup diperhitungkan untuk maju sebagai DKI-1. Wakil Ketua Umum Golkar Agung Laksono mengatakan bahwa masing-masing nama punya potensi, termasuk Alex Noerdin. Namun, keputusan akhir tetap mengacu pada hasil survei sebagai tolok ukur seorang calon yang akan diusung oleh partai berlambang pohon beringin ini.

"Semuanya berpeluang. Ada Prya (Ramadhani), Tantowi (Yahya), Alex dan Fadel (Muhammad). Belum diputuskan juga saat ini," ujar Agung kepada Kompas.com, Selasa (7/2/2012).

Menanggapi dugaan keterlibatan Alex Noerdin dalam kasus suap wisma atlet SEA Games 2011, Agung mengatakan bahwa pihaknya menganut asas praduga tak bersalah. Selama belum dapat dibuktikan keterlibatannya dalam kasus korupsi yang menyeret sejumlah nama pejabat tersebut, Alex masih berpeluang untuk bersaing dengan calon internal lainnya. "Baru dugaan saja, kan. Jadi kami masih beri kesempatan. Untuk itu, kami masih melihat hasil survei," jelasnya.

Agung juga tidak mempermasalahkan status Alex yang masih menjabat sebagai Gubernur Sumatera Selatan sampai 2013. Hal itu tetap akan kembali lagi pada individu masing-masing calon dan hasil survei yang menentukan calon yang pantas untuk diusung oleh partai Golkar dalam pemilihan kepala daerah DKI Jakarta 2012.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau