Demokrat

Pendiri Demokrat Berkumpul di Jakarta

Kompas.com - 08/02/2012, 04:40 WIB

Jakarta, Kompas - Ketua Forum Pendiri dan Deklarator Partai Demokrat Ventje Rumangkang menuturkan, pendiri dan deklarator Partai Demokrat dari 31 provinsi atau dewan pimpinan daerah akan bertemu di Jakarta pada Februari ini. Pertemuan serupa digelar pada Mei 2012 untuk pendiri dan deklarator Partai Demokrat di 380 kota/kabupaten atau tingkat dewan pimpinan cabang.

”Dari setiap daerah hadir dua orang, mantan ketua dan sekretaris partai. Mereka menjabat pada 2001-2005 dan sekitar 80 persen di antaranya sekarang sudah tidak di Partai Demokrat,” kata Rumangkang, Selasa (7/2), di Jakarta. Rumangkang menuturkan, pertemuan itu untuk membantu menyosialisasikan kerja partai dan pemerintah. Dia menyangkal pertemuan itu bagian dari penggalangan kekuatan untuk meminta Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum mundur.

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Saan Mustopa mengaku tidak melihat pertemuan pendiri dan deklarator Partai Demokrat bagian dari penggalangan kekuatan untuk menurunkan Anas.

Apalagi suara-suara di daerah juga masih memberikan dukungan kepada Anas dan taat pada aturan main. Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrat Kalimantan Barat Rasmidi mengatakan menjunjung asas praduga tak bersalah terhadap Anas. Ketua DPD PD Nusa Tenggara Timur Johny Kaunang mengatakan, ”Kita harus menunggu proses hukum. Jika Anas terbukti bersalah, langkah yang bisa segera ditempuh adalah KLB (kongres luar biasa).”

Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Bali I Made Mudarta menegaskan, pihaknya tidak menuntut ketua umum di pusat untuk mundur. Ia mengatakan tetap mengikuti perintah dan menaati imbauan Dewan Pembina. Bagi Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah DPD Partai Demokrat Jawa Timur Ibnu Hadjar, partai memiliki AD/ART. Ketua DPD Partai Demokrat Sulawesi Selatan Ilham Arief Sirajuddin pun mendesak DPP Partai Demokrat segera menyelesaikan polemik itu. Tindakan yang harus diambil, diserahkan kepada pengurus pusat.

Sebelumnya, anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Achmad Mubarok, menjelaskan, ada begitu banyak pihak yang meminta supaya Anas mundur. Namun, penegasan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono merupakan isyarat kuat untuk meminta Partai Demokrat jangan terpengaruh. ”Kalau sekadar menuruti permintaan pihak lain, Partai Demokrat jangan-jangan mungkin juga harus bubar sekarang,” ujarnya.

Secara terpisah, Sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat Andi Mallarangeng mengatakan, persoalan hukum yang menyangkut kader Demokrat itu tidak sampai membebani kinerja pemerintah. (AHA/ANS/WHO/AYS/WSI/ARA/SIN/ATO/NWO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau