India Siap Bantu Indonesia Bikin Tablet Rp 300.000

Kompas.com - 08/02/2012, 10:27 WIB

KOMPAS.com - Indian Institute of Technology (IIT) Rajasthan siap membantu Indonesia memproduksi komputer tablet murah seharga 35 dollar AS dengan menyediakan bantuan teknis hingga pengembangan produksi.

Siaran pers dari KBRI New Delhi menyebutkan, Ketua Tim Pengembang tablet "Aakhaas", Prof S Yadav, yang didampingi penjabat Direktur IIT Rajasthan Prof B Ravindra, menyampaikan kesediaan itu kepada Dubes RI untuk India, Letnan Jenderal TNI (Purn) Andi M Ghalib, dalam kunjungannya ke IIT Rajasthan, Jodhpur, India, Rabu (1/2/2012).

IIT Rajahstan India baru-baru ini menghebohkan jagat informasi teknologi dunia dengan memproduksi komputer tablet termurah seharga 35 dollar AS (sekitar Rp 315.000). Prof Yadav menjelaskan bahwa kunci murahnya komputer tablet itu sederhana.

"Pertama, komponen harus dipilih yang murah tanpa mengorbankan mutu," katanya. "Kedua, proses produksi harus dioptimalkan, dengan mempertimbangkan aspek lokasi, upah buruh dan distribusi.

Yang penting lagi, lanjut dia, adalah jumlah produksi yang harus mencapai jumlah massal sehingga skala ekonominya bisa dicapai.

Pemerintah India melalui Kementerian Pengembangan Sumber Daya Manusia (Kementerian Pendidikan) telah menargetkan untuk membagi tablet tersebut kepada 18.000 sekolah di seluruh India, sehingga jumlah produksinya lebih dari cukup untuk bisa menekan harga.

Tablet "Aakaash" ini telah dikembangkan lebih jauh, seperti ditunjukkan dalam kunjungan tersebut. Kalau versi pertama prosesornya hanya 300 MHz, sehingga lambat untuk pemutaran video, maka sekarang telah ditingkatkan hingga 1,2 GHz sehingga kinerjanya jauh lebih baik.

"Memang harganya menjadi 60 dollar," ujar Prof Yadav.

Dalam kunjungan itu Dubes Andi M Ghalib yang didampingi Atase Pendidikan KBRI New Delhi Dr Son Kuswadi itu menyambut baik tawaran tersebut dan akan mengajak beberapa universitas di Indonesia untuk menyambut tawaran itu.

Selain itu, Dubes RI akan mengusulkan kepada Mendikbud untuk mengadakan program serupa di Indonesia, dengan menggandeng IIT Rajasthan ini yang telah bersedia memberikan bantuan teknisnya.

Kunjungan itu juga bertujuan untuk melihat secara langsung bagaimana IIT Rajasthan yang baru dibangun 2008 telah berkembang begitu cepat.

Dubes Andi M Ghalib sangat terkesan atas konsep pengembangan IIT, yang tidak sekadar hanya memakai pendekatan konvensional.

"Mengingat kita akan membangun dua institut teknologi baru di Kalimantan dan Sumatera, maka kita akan ajak para perancangnya untuk melakukan benchmarking ke Tanah Air," kata Ghalib.

Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Teknologi Surabaya (ITS) telah ditunjuk pemerintah untuk mengembangkan institut teknologi masing-masing di Sumatera dan Kalimantan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau