Kebijakan Pangan Kecewakan Daerah

Kompas.com - 09/02/2012, 04:46 WIB

Jakarta, Kompas Pemerintah daerah mempertanyakan komitmen negara dalam mengelola pangan. Berbagai kebijakan tidak mendorong peningkatan kesejahteraan petani selaku produsen. Sampai saat ini, lahan baku sawah setiap hari hilang karena alih fungsi.

Demikian pandangan yang terungkap dalam rapat dengar pendapat antara wakil dari tujuh provinsi sentra produksi pangan nasional dan Komisi IV DPR di Jakarta, Rabu (8/2). Provinsi itu adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara.

Dalam rapat tersebut juga hadir Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Udhoro Kasih Anggoro, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Achmad Suryana, dan Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso.

Komisi IV DPR meminta komitmen daerah untuk mendukung tercapainya surplus produksi beras 10 juta ton pada 2014 guna mencapai swasembada dan ketahanan pangan nasional.

Pandangan dalam rapat ini juga seakan menjawab ungkapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Food Security Summit (Kompas, 8/2) bahwa ketahanan pangan semakin kritis di tengah perubahan iklim dan masalah dunia lainnya. Karena itu, Presiden minta semua pihak memperkuat ketahanan pangan nasional.

Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo dalam rapat menyatakan, Jawa Tengah siap mendukung produksi beras 2012 dan beras tersedia. ”Masalahnya Bulog mau membeli atau tidak? Kalau Bulog belinya menawar terus, sedangkan harga beras di pasar tinggi, sampai kapan pun Bulog enggak akan dapat beras,” katanya.

”Target pengadaan beras Bulog 2011 tidak tercapai, apalagi kalau tahun 2012 tak mau beli beras sesuai harga pasar. Membeli beras rakyat, kok, ditawar-tawar. Mau menyejahterakan rakyat sedikit, kebijakannya, kok, dibuat macam-macam. Rakyat sebagai tumbal terus. Enggak boleh seperti itu. Jangan membeli pakai HPP (harga pembelian pemerintah). Aturan yang buat kita sendiri, tinggal mengubah,” ujarnya.

Bibit juga kesal pernah dipingpong saat meminta traktor kepada pemerintah pusat. Padahal, traktor dipakai untuk menanam padi secara serentak di lahan seluas 7.000 hektar untuk menanggulangi serangan hama tikus dan wereng batang coklat.

Masalah alih fungsi lahan yang tak ada penyelesaian dan sanksi juga dikeluhkan. ”(Alih fungsi lahan) itu ulah bupati, bukan gubernur. Sanksi juga tak bisa diberikan untuk alih fungsi,” katanya. Bibit juga mengatakan, bupati tidak peduli terhadap jaringan irigasi yang rusak.

Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mengatakan, masalah pangan utama sekarang adalah bagaimana memberikan dukungan kepada petani agar mereka lebih produktif karena mereka yang memproduksi pangan. ”Kita ukur seberapa jauh pemerintah memberikan dukungan untuk keperluan petani,” katanya.

Saat ini, menurut Saifullah, hanya 23,6 persen kebutuhan petani yang ditopang dari usaha tani padi. Sebagian besar atau 72,4 persen pendapatan petani di luar padi. ”Ini masalah nasional meningkatkan 23,6 persen itu,” katanya. Soal alih fungsi lahan, di Jawa Timur setiap tahun ada 3.800 hektar lahan yang hilang.

Soal benih juga masih ada masalah. Terkait HPP, petani meminta agar beras mereka dibeli saja tanpa HPP. Soal pembiayaan, yang penting bagi petani mudah mengakses dan tidak perlu jaminan. ”Tidak usah ruwet,” katanya. Saifullah juga mengeluhkan kebijakan tata niaga yang menjadikan Jawa Timur sebagai pintu masuk impor produk buah dan sayur. Sebab, ini akan menggerus pendapatan petani.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan, pangan jangan sekadar dinilai secara ekonomi, tetapi harus juga memberikan kehidupan bagi petani dengan memberikan pendapatan yang lebih. Yang terjadi, surplus produksi tidak seiring dengan peningkatan kesejahteraan petani. Gubernur juga minta HPP segera diubah, disesuaikan dengan harga pasar.

Dalam dua tahun ini Pemprov Jawa Barat mengalokasikan dana APBD untuk pembelian 1.250 traktor, 1.064 pompa air, dan 64 alat perontok padi.

Wakil dari Provinsi Sumatera Utara mengatakan, benih padi kurang unggul. Dukungan irigasi kurang karena pembangunan irigasi terkendala pembebasan lahan. Padahal, irigasi berpotensi mengairi lahan 18.000 hektar.

Wakil dari Provinsi Sulawesi Selatan mengeluhkan keterlambatan pupuk untuk pertanaman padi. Ini akibat arus bongkar muat yang terganggu.

Tidak bisa akses pupuk

Anggoro mengungkapkan, saat ini 57 persen jaringan irigasi rusak. Padahal, 2,3 juta hektar lahan menjadi kewenangan pemerintah pusat, 1,4 juta ha pemerintah provinsi, dan 3,4 juta ha pemerintah kabupaten/kota.

Dukungan anggaran perbaikan irigasi kurang. ”Ini sumber utama peningkatan produksi,” ujarnya. Kalau masalah irigasi ini diselesaikan, produktivitas tanaman padi yang kini 4 ton gabah kering giling untuk lahan seluas 4 juta hektar sampai 5 juta hektar bisa ditingkatkan.

Mengutip data Badan Pusat Statistik, Anggoro mengatakan, dari 14,9 juta rumah tangga petani padi, sebanyak 1,226 juta rumah tangga atau 8 persen di antaranya tidak mampu mengakses pupuk sama sekali.

Kalau 1,226 juta rumah tangga petani padi rata-rata memiliki lahan 0,5 hektar, apabila mereka bisa mengakses pupuk, akan ada tambahan produksi 3,9 juta ton gabah kering giling.

Anggoro menyatakan, ada empat strategi peningkatan produksi beras yang realistis, yakni peningkatan produktivitas, perluasan area, penurunan konsumsi per kapita, serta penyempurnaan manajemen pangan.

Sutarto mengatakan, Bulog tahun ini akan mengoptimalkan pembelian beras dalam negeri. Sejak Januari 2012, Bulog sudah melakukan pembelian. Total pengadaan sampai kemarin 5.000 ton karena panen yang sekarang masih diserap pasar.

(MAS/OSA/LAS/HEN/EGI/ NIK/DIA/WIE/ODY/WHO/ EKI/MKN/SIR/ACI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau