Mubarak Ancam Bunuh Diri

Kompas.com - 09/02/2012, 07:58 WIB

KAIRO, KOMPAS.com — Mantan Presiden Mesir Hosni Mubarak mengancam akan bunuh diri jika dipindahkan ke rumah sakit penjara Tara. Mubarak kini dirawat di rumah sakit internasional milik militer, sekitar 50 kilometer arah timur kota Kairo.

Demikian diberitakan koran Mesir, Rose el Yousef, edisi Rabu (8/2). Mubarak merasa lebih nyaman ditempatkan di rumah sakit militer, yang dikontrol militer, lembaga yang masih segan terhadapnya. Namun, rakyat jengkel dan menuduh pihak militer selalu membela dan melindungi Mubarak.

Mubarak menyampaikan kepada dua pengawal pribadinya agar memberi tahu tim medis yang merawatnya bahwa ia akan bunuh diri jika Kementerian Dalam Negeri memindahkan Mubarak ke rumah sakit penjara Tara. Bagi Mubarak, pemindahan ini akan mempermalukan dirinya.

Menteri Dalam Negeri Mohamed Ibrahim, dalam pertemuan dengan sejumlah anggota parlemen dan wakil lembaga swadaya masyarakat hari Minggu lalu, mengungkapkan, akan menyebar para tahanan loyalis Mubarak yang kini berada di penjara Tara ke lima penjara.

Di antara loyalis Mubarak yang akan disebar ke lima penjara itu adalah dua putra mantan Presiden Mubarak, Alaa dan Jamal, serta mantan Ketua MPR Safwat Sharif dan mantan Menteri Dalam Negeri Habib al Adly.

Mendagri Mohamed Ibrahim juga mengungkapkan tengah merenovasi rumah sakit penjara Tara. Sumber-sumber di Kementerian Dalam Negeri, seperti dikutip harian Al Ahram, menyebutkan, renovasi penjara Tara adalah untuk persiapan pemindahan Mubarak ke sana.

Hari terkelam

Keluarga Mubarak sedang dirundung nestapa. Suzanne Mubarak, istri Mubarak, juga mengaku pernah berniat bunuh diri. Itu dia tuliskan dalam buku memoarnya. Niat bunuh diri itu muncul karena tuduhan korupsi yang diajukan kepadanya.

”Tanggal 13 Mei 2011 adalah hari terkelam sepanjang kehidupan saya.... Saya menelan obat tidur berlebihan ketika ada perintah bahwa saya segera ditangkap karena tuduhan korupsi. Saya memang ingin bunuh diri saat itu karena tak bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup ini,” katanya.

Untungnya, lanjut Suzanne, dia secara ajaib diselamatkan. ”Dan lalu, suami saya berkomunikasi dengan seorang penguasa di Mesir, saya kira seorang politisi, yang berusaha membuat saya tetap dengan suami di rumah sakit pada tanggal penentuan penahanan saya,” kata Suzanne.

Pengacara Mubarak, Farid al-Dib, berusaha mencegah penangkapan Suzanne. ”Adalah dia yang meminta saya menyerahkan semua kekayaan saya kepada Pemerintah Mesir. Lalu, pada 17 Mei, saya dibebaskan dari tuduhan korupsi,” lanjut Suzanne.

Suzanne Mubarak juga mengenang kejutan pada hari-hari terakhir kekuasaan suaminya. ”AS, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Kuwait menawarkan kepada suami dan semua anggota keluarga tempat tinggal pada awal Februari 2011. Namun, ketika dia (Mubarak) mundur, semua tawaran ini lenyap,” kata mantan Ibu Negara Mesir itu.

Dia mengatakan, adalah putra tertuanya, Alaa, dan bukan putra termuda, Jamal, yang membantu suaminya melakukan pengambilan keputusan terakhir dan amat genting.

”Pada 1 Februari, saat suami saya bertelepon dengan Presiden AS Barack Obama. Suami saya setuju mundur, tetapi tidak mau melakukan pengumuman resmi. Dia juga meminta jaminan bahwa dia dan keluarganya tidak akan terganggu. Utusan khusus AS memberikan jaminan soal ini,” katanya. (MON/MTH)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau