7 Mitos Terpopuler tentang Kanker

Kompas.com - 09/02/2012, 11:51 WIB

KOMPAS.com - Saat ini, ada begitu banyak rumor mengenai panyakit kanker yang berkembang di masyarakat. Fatalnya, rumor tersebut seringkali tidak mempunyai tingkat akurasi yang jelas sehingga menimbulkan kecemasan bagi sebagian besar orang.

Sebut saja misalnya, penggunaan deodoran yang disebut-sebut memicu kanker sampai penggunaan telepon seluler yang katanya dapat meningkatkan risiko kanker otak. Agar tidak ada persepsi yang keliru mengenai kanker, berikut ini kami tampilkan beberapa mitos dan fakta terpopuler terkait perkembangan kanker, seperti dikutip Healthmeup :

1. Mitos: Kanker mungkin menular

Fakta: Intinya, orang dengan kondisi badan yang sehat tidak dapat tertular penyakit ini melalui kontak fisik atau dengan menghirup udara yang sama. Hal ini hanya mungkin terjadi jika Anda melakukan transplantasi organ dari orang dengan kanker. Bahkan, penularan kanker dari ibu ke anak melalui plasenta sangat kecil kemungkinannya.

2. Mitos: pewarna rambut dapat menyebabkan kanker otak

Fakta: Anda mungkin telah mendengar pernyataan dan spekulasi terkait hubungan antara penggunaan pewarna rambut dengan kanker otak. Percayalah, itu tidak lain hanyalah salah satu di antara banyak mitos yang terkait dengan kanker. The Internasional Agency for Research on Canker (IARC) menyebutkan, meskipun ada risiko paparan zat karsinogenik di tempat kerja, tetapi penggunaan pewarna rambut tidak menyebabkan efek berbahaya terhadap manusia.

3 Mitos: Kanker menyebabkan rambut rontok

Fakta: Anggapan ini sama sekali tidak relevan. Rambut rontok bukanlah efek samping dari kanker melainkan karena efek terapi pengobatan kanker seperti kemoterapi dan radiasi. Bahkan, tidak semua pasien kanker yang menjalani perawatan ini akan kehilangan rambut mereka.

4. Mitos: Kanker diturunkan

Fakta: Anda mungkin sering melihat ada beberapa anggota dalam sebuah keluarga yang mengidap kanker. Hal ini tidak mengherankan, mengingat fakta bahwa kanker adalah suatu penyakit yang umum. Selain itu, anggota yang berbeda dalam sebuah keluarga mungkin terpapar faktor pemicu kanker yang sama seperti misalnya merokok. Namun pada beberapa kasus tertentu, ada kemungkinan kanker dapat diwariskan misalnya, kanker ovarium atau kanker kolorektal. Namun, penting untuk dicatat bahwa hal ini mungkin terjadi jika ada gen yang tidak normal dan bukan karena kanker itu sendiri.

5. Mitos: Semua benjolan pada payudara adalah kanker

Fakta: Jangan panik jika Anda telah menemukan benjolan di payudara Anda karena tidak semua benjolan payudara adalah kanker. Menurut suatu penelitian, lebih dari 90 persen kasus benjolan pada payudara bukanlah kanker. Di sisi lain, hasil diagnosa sekitar 10 persen pasien kanker payudara tidak memiliki bentuk benjolan di payudara. Namun, Anda patut khawatir jika benjolan pada payudara Anda mengeluarkan cairan dan mengalami perubahan bentuk atau ukuran.

6. Mitos: Deodoran dapat menyebabkan kanker payudara

Fakta: Menurut riset yang dirilis oleh National Cancer Institute (NCI), tidak ada penelitian konklusif yang mengaitkan antara penggunaan deodoran dan antiperspiran terkait risiko mengidap kanker payudara. Rumor ini diduga merebak setelah ada laporan yang menemukan bahwa kandungan aluminium pada deodoran dapat meresap pada kulit dekat payudara. Hal ini, pada gilirannya, mendorong pertumbuhan sel kanker payudara. Namun, NCI bersama dengan US Food and Drug Administration (FDA) membatalkan klaim tersebut yang menyatakan bahwa laporan-laporan ini tidak berhubungan dengan penjelasan ilmiah yang substansial.

7 Mitos: Terlalu sering menggunakan ponsel menyebabkan kanker

Fakta: Beberapa orang menyakini bahwa paparan frekuensi radio dari ponsel dapat meningkatkan risiko kanker. Tetapi tidak ada penelitian yang mampu menjelaskan hubungan antara keduanya. Sementara laporan dari National Institue of Environmental Health Science, mengatakan bahwa belum ada bukti ilmiah yang mampu menjelaskan hubungan konklusif antara ponsel dan kanker, dan perlu penelitian lebih lanjut tentang ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau