Ketahanan pangan

Lahan Produktif Terus Menghilang

Kompas.com - 10/02/2012, 06:13 WIB

JAKARTA, KOMAPAS.com - Berdasarkan laporan dari sejumlah sentra beras, lahan produktif banyak yang beralih fungsi. Hal ini menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan dalam negeri karena lahan masih menjadi tumpuan peningkatan produksi beras.

Di Sukoharjo, Jawa Tengah, Harno, petani, menuturkan, pembelian lahan petani sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu. Ia mengungkapkan, lahan miliknya seluas 3 hektar di tepi jalan menuju pusat kota Sukoharjo dibeli pada 1970-an. Saat ini, lahan itu telah berubah menjadi permukiman, bengkel, dan garasi bus. Demikian pula lahan di dekat Waduk Cengklik di Boyolali yang kini dibangun permukiman.

”Petani itu, mana yang menguntungkan, itu yang dikerjakan. Kalau sekarang lebih untung tanam melon daripada tanam padi, ya, pilih tanam melon. Petani itu kalau untung, ya, begitu-begitu saja, untung sedikit. Beda dengan pengusaha. Kalau punya tanah dan kebetulan butuh uang, ya, dijual tanahnya,” paparnya.

Untuk mengatasi masalah ini, Pemerintah Kabupaten Sukoharjo mengeluarkan peraturan daerah tentang alih fungsi lahan untuk menahan laju alih fungsi lahan pertanian menjadi non-pertanian. Keberadaan peraturan daerah yang diterbitkan tahun 2011 ini setidaknya dapat mempertahankan lahan basah di Sukoharjo seluas 21.287 hektar pada 2010.

”Untuk tahun 2011 luasnya masih kami hitung. Tahun 2012 kami ditargetkan Pemerintah Provinsi Jateng memiliki lahan basah hingga 21.113 hektar,” kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo Giyarti, Kamis (9/2/2012).

Di Gresik, Jawa Timur, konsep tata ruang yang tidak jelas menyebabkan lahan produktif untuk pertanian dan tambak berubah fungsi menjadi kawasan permukiman, pergudangan, dan pabrik. Setidaknya itu terlihat di kawasan Cerme, Manyar, dan Duduksampeyan.

Menurut Pengurus Harian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Gresik Asikin Hariyanto, pemerintah perlu tegas dan konsisten terhadap rencana tata ruang wilayah. Penyusutan lahan pertanian harus diimbangi peningkatan produksi karena jumlah penduduk terus bertambah.

Di Madiun, sejumlah petani menilai, pengalihan fungsi lahan pertanian berdampak besar, baik bagi petani penggarap maupun buruh tani. Menyusutnya lahan sawah sebagai akibat dari alih fungsi setidaknya menyebabkan harga sewa terus meningkat dan buruh tani terancam kehilangan lapangan kerja.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Kabupaten Madiun Suharno mengatakan, kenaikan harga sewa lahan pertanian produktif saat ini melebihi inflasi tahunan di daerah. Sebagai gambaran, harga sewa sawah irigasi teknis di Madiun yang sebelumnya Rp 8 juta per hektar sekarang naik menjadi Rp 10 juta, bahkan menembus Rp 12 juta per hektar.

Di Kabupaten Malang, Jawa Timur, luas panen lahan pertanian menurun beberapa tahun terakhir akibat cuaca ekstrem yang menyebabkan sebagian lahan gagal panen serta masalah yang lama dihadapi, yaitu konversi lahan menjadi lahan perindustrian dan perumahan. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Malang Purwanto membenarkan itu dan menjelaskan bahwa gejala yang sama terjadi di banyak wilayah produksi tanaman pangan pertanian di Jawa Timur.

Kepala Dinas Pertanian Kota Malang Ninik Suryantini kepada wartawan sebelumnya menjelaskan, di Malang, lahan pertanian terus menyusut karena konversi lahan menjadi kawasan perdagangan dan perumahan. Pada 2007, luas lahan pertanian di Kota Malang masih sebesar 1.550 hektar (ha), tahun 2009 menyusut menjadi 1.400 ha dan tahun 2012 tinggal 1.300 ha.

Beralih ke laut

Pakar teknologi pangan, Prof Dr FG Winarno, menyatakan, masa depan pangan Indonesia adalah laut. ”Selama ini kita melupakan itu, padahal laut menyimpan potensi sumber pangan yang luar biasa besar. Apalagi, luas daratan kita hanya sepertiga dari luas laut,” katanya.

Lapisan kesuburan tanah juga terbatas, hanya 20 sentimeter. Bandingkan dengan laut yang yang bisa dieksplorasi sampai dalam. ”Karena itu, perlu perubahan orientasi pangan dari yang saat ini darat ke laut,” katanya.

Pemenuhan kebutuhan pangan berbasis laut penting untuk mendukung penganekaragaman konsumsi pangan lokal yang selama ini bias nasi. Sebagai catatan, konsumsi beras per kapita orang Indonesia 139,15 kilogram per tahun.

Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk Franciscus Welirang dalam peluncuran program Indofood Riset Nugraha menekankan, saat lahan pertanian pangan menyempit sebagai dampak pertambahan jumlah penduduk, pembangunan fisik, dan pengolahan tambang, saatnya kita berani mengeksplorasi laut. Laut tak hanya memberikan ikan dan garam, tetapi juga tumbuhan laut yang bergizi tinggi. (MAS/LAS/EKI/NIK/ETA/ACI/SIR/ODY/EGI/GRE/HEN/RUL/MKN)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau