JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution berharap, jika pemerintah akan menempuh opsi menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi, maka kenaikan harganya tidak terlalu besar. Hal tersebut disampaikan Darmin terkait pengendalian angka inflasi.
"Kita di sini situasi terlihat jelas (yakni) inflasi terkendali. Dan, dua bulan ke depan year on year kecenderungannya kalau enggak tetap cenderung turun ke bawah. Nah, sedangkan ada yang mengatakan memang nanti, kan, ada penyesuaian di BBM. Ya, betul, tetapi kita tidak tahu yang mana, terus terang saja siapa pun sekarang ini tidak ada yang tahu skenario mana yang akan ditempuh," ucap Darmin, di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (10/2/2012).
Menurut Darmin, jika opsi pembatasan konsumsi BBM bersubsidi yang dilakukan pemerintah, BI melihat inflasi tahun 2012 ini masih dalam target yang diperkirakan, yakni 3,5-5,5 persen. Akan tetapi, kondisi inflasi akan berbeda jika pemerintah jadi memberlakukan kenaikan harga BBM.
Ia menuturkan, dampak kenaikan harga terhadap inflasi akan bergantung seberapa besar kenaikan harga yang ditetapkan. "Namun, kalau kenaikan harga yang ditempuh sangat tergantung berapa kenaikan harganya. Kita tentu saja tidak memperkirakan kenaikan harga itu akan terlalu besar sehingga sebagai gambaran inflasi masih akan berada di range target kita tahun ini," tutur Darmin.
Seperti diwartakan, pemerintah sedang membahas mekanisme pembatasan konsumsi bahan bakar minyak bersubsidi. Pembatasan dengan cara mengalihkan konsumsi BBM bersubsidi ke pertamax dan bahan bakar gas tampaknya sulit dilakukan. Opsi sekarang ini yang tampaknya akan diusahakan adalah menaikkan harga BBM bersubsidi. Opsi ini bisa terwujud dengan melakukan perubahan pada APBN 2012.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang