Nasheed masih bebas bergerak di Male, ibu kota negara, Jumat (10/2). Hujan deras dan cuaca dingin seakan meredakan ketegangan sehari setelah pengadilan pidana setempat mengeluarkan surat perintah penangkapan Nasheed. Dia dengan cepat kembali menjadi aktivis jalanan dan polisi pun tak berani menangkapnya.
”Belum ada klarifikasi atas surat perintah penangkapan,” kata Nasheed di depan kediaman keluarganya di Male, ibu kota negara yang dihuni 330.000 Muslim Sunni itu, Jumat (10/2). Rumahnya dijaga ketat ratusan pendukungnya sejak Rabu. Mereka siaga melawan petugas.
Nasheed, presiden pertama yang dipilih secara demokratis setelah 30 tahun negara dipimpin pemerintahan otokratis Maumoon Abdul Gayoom, mundur akibat tekanan polisi dan tentara, Selasa (7/2). Sekitar 50 tentara dan polisi, Jumat, mengenakan pakaian antihuru-hara dan bersenjata, bersiaga di Lapangan Republik di lokasi terdapat Masjid Agung.
Aparat yang dituduh Nasheed telah bersekongkol dengan oposisi itu pun tidak menangkapnya, padahal pengadilan pidana telah menerbitkan surat perintah penangkapan. Namun, kesalahan Nasheed memang tidak pernah jelas.
Polisi mengaku telah memegang surat perintah menangkap Nasheed, tetapi belum bisa mengeksekusinya. ”Kami bisa saja menangkap dan menahannya jika kami merasa perlu. Namun, kami berhati-hati dan taktis tentang bagaimana dan kapan melakukannya,” kata juru bicara polisi, Abdul Mannan Yusuf.
Yusuf tidak menjelaskan dasar hukum surat perintah pengadilan. Dia juga tidak mengatakan kapan Nasheed ditangkap. Pejabat lain, Komisaris Polisi Abdullah Riaz, mengatakan, tak jelas apakah surat perintah itu konstitusional. Dia mengatakan legalitas surat diragukan dan masih diperiksa keabsahannya.
Nasheed sendiri mendesak pemerintah untuk segera menggelar pemilu. Dia mengaku telah diturunkan paksa di bawah tekanan senjata aparat keamanan, dan Hussain berada di baliknya.
Utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa, Oscar Fernandez-Taranco, tiba di Male, Jumat (10/2). Dia mencoba mengakhiri konflik politik lewat dialog, dan dijadwalkan akan bertemu Nasheed dan Presiden Mohammed Waheed Hassan, mantan wakil presiden bagi Nasheed.
Fernandez-Taranco, Asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Politik, akan berada tiga hari di negara kepulauan itu. Dia sudah bertemu dengan Hussain didampingi sejumlah diplomat, termasuk dari India, Inggris, AS, dan Uni Eropa, baik yang ada di Male maupun dari luar. Utusan lingkup Negara-negara Persemakmuran juga hadir.
”Kami memberi tahu Presiden bahwa saat ini, sangat penting mengingatkan polisi dan militer agar menjalankan tugas sesuai konstitusi untuk mendinginkan suhu politik,” kata Akbar Khan, Ketua Delegasi Persemakmuran. ”Kerapuhan transisi demokrasi di negeri ini terlihat jelas,” katanya.
Nasheed adalah presiden terpilih pertama. Namun sejak tiga pekan lalu, dia diguncang aksi protes. Massa memprotes tindakan Nasheed yang meminta seorang hakim senior di tangkap karena berpihak pada oposisi. Aksi itu berpuncak ketika polisi mengangkat senjata dan memaksa Nasheed mundur.
Maladewa hampir sembilan abad berbentuk negara kesultanan sebelum menjadi jajahan Inggris. Negara ini menggelar pemilu pertama pada tahun 2008. Saat itu, Nasheed yang baru berusia 40 tahun mengalahkan Maumoon Abdul Gayom yang selama 30 tahun memimpin.
Nasheed menulis di The New York Times. Dia mengatakan, hal yang terjadi di Maladewa sejak kejatuhan pemerintahan ”tangan besi” Gayoom harus menjadi peringatan penting bagi negara-negara Muslim lainnya yang sedang menginginkan reformasi demokratis.
”Pemerintahan diktator dapat dihapus dalam sehari, tetapi bisa diperlukan waktu bertahun-tahun membasmi sisa-sisa kediktatoran,” demikian Nasheed menulis di harian itu.
Secara umum, situasi di Maladewa berangsur pulih setelah kerusuhan yang pecah pada Rabu malam hingga Kamis pagi. Di Addu Gan, pulau kedua paling padat penduduk di Maladewa dengan populasi 30.000 orang, berangsur tenang. Di sini sebagian besar simpatisan Nasheed telah membakar kantor polisi, pengadilan, dan kantor pemerintah.
”Warga sudah tenang, tetapi saya tidak tahu apakah akan ada kasus-kasus baru atau tidak,” kata petugas pemadam kebakaran Hussain Sharif per telepon dari Pulau Addu Gan, bekas pangkalan Angkatan Udara Inggris.
Sharif menuturkan, polisi telah menangkap seorang anggota dewan partai pimpinan Nasheed atas tuduhan mengobarkan kekacauan. Vandalisme terjadi setelah muncul rumor yang mengatakan Nasheed ditembak mati oleh polisi. ”Seseorang memberi kabar Nasheed tewas dibunuh polisi atau militer,” katanya.