Korupsi

Pers, Jangan Biarkan Koruptor Nyaman

Kompas.com - 11/02/2012, 13:45 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sosiolog Universitas Indonesia, Tamrin Amal Tomagola memuji kerja pers belakangan ini yang gencar memberitakan kasus-kasus korupsi yang telah meresahkan masyarakat. Menurut Tamrin, langkah pers seperti ini akan membuat para koruptor tidak tenang di mana pun mereka berada.

"Media terus memberitakan dan terus mengejar para koruptor itu kan, saya setuju. Jangan biarkan dia nyaman di mana pun, kejar terus. Media sudah lakukan itu dan itu bagus," ujar Tamrin di Jakarta, Sabtu (11/2/2012).

Menurut Tamrin, media harus terbuka terhadap berbagai informasi, terutama mengenai masalah korupsi. Tak menjadi masalah jika pemberitaan itu menjadi berita sensasional, agar publik mengetahui apa yang terjadi di belakang orang-orang yang mengaku membela rakyat, tapi meraup uang negara.

"Malah itu dijadikan bahan yang sangat sensasional, sampai Angelina Sondakh enggak bisa tenang. Koruptor itu harus dibikin begitu, sudah bagus," terangnya.

Menurut Tamrin, jika ada media yang terkesan memberitakan korupsi dengan cara yang berbeda atau ditutup-tutupi, maka publik harus menyaring isi pemberitaan itu. "Jangan ditelan bulat-bulat pemberitaan kalau tidak bisa dipercaya pemberitaannya," katanya tegas.

Anggota Dewan Pers Wina Armada mengungkapkan, pers harus tetap mengawal kasus korupsi, terutama kasus-kasus besar seperti kasus Wisma Atlet Century dan mafia banggar, tetapi harus tetap memperhatikan kode etik jurnalistik.

"Pers harus terus mengawal kasus korupsi. Saya kira di sini sudah terlihat, tapi harus berimbang penberitaannya dan jangan menghakimi, tetap mengedepankan azas praduga tak bersalah," kata Wina.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau