Pengungsi Banjir di Tangerang Dominan Sakit ISPA

Kompas.com - 12/02/2012, 23:46 WIB

TANGERANG, KOMPAS.com - Para pengungsi korban banjir di Kelurahan Gembor, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, Banten, dominan terkena penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan mereka berobat ke Puskesmas setempat.

"Kami mendata para pengungsi mayoritas terkena penyakit ISPA dan diare," kata Kepala Puskesmas Gembor, dr. Sonny ditemui di Periuk, Tangerang, Minggu (12/2/2012) malam.

Dia mengatakan, sejak mengungsi di kompleks Sekolah Dasar Total Persada Raya Minggu dini hari bahwa telah warga telah memeriksakan kesehatan mereka sebanyak 29 pasien.

Pernyataan Sonny tersebut terkait para pengungsi banjir di Kelurahan Gembor, Kecamatan Periuk, terserang penyakit diare dan muntaber terutama dialami oleh anak-anak di lokasi penampungan sekolah dasar setempat.

Sedangkan dua anak-anak masing-masing Nurul Fitri Yusnia (8,2) dan Fazril Yusuf (1,4) menderita diare dan disertai panas tinggi selama di tempat pengungsi.

Selain itu, Ahmad Gozali (4,3) warga RT 07/07 juga mengalami sakit diare dan hanya diatasi dengan pemberian oralit.

Ratusan rumah penduduk di Kelurahan Gembor, Kecamatan Periuk, terendam air dengan ketinggian 1,6 meter hingga 2,4 meter akibat meluapnya Kali Cirarap, sebagian warga terpaksa mengungsi.

Walau begitu, penyebab banjir karena Kali Cirarap meluap akibat hujan deras yang turun sejak Sabtu (11/2/2012) malam hingga Minggu dini hari dan diperparah aliran air dari hulu sungai di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Namun kawasan terparah berada di Perumahan Total Persada RT 07, 08, 08 dan 010 RW 07 dan RT 01, 02, 03 dan 05 RW 08 dengan ketinggian air mencapai 2,4 meter.

Menurut Sonny bahwa selain ISPA dan diare warga di lokasi pengungsian menderita penyakit influenza dan ada juga yang muntaber.

Bahkan seorang pengungsi terpaksa dilarikan ke RS Sari Asih karena mengalami strok akibat di Puskesmas setempat tidak memiliki peralatan medis yang memadai untuk perawatan pasien tersebut.

Sonny mengatakan, bahwa sejak banjir, Puskesmas Gembor buka selama 24 jam dan siaga seorang dokter dan beberapa medis serta siaga ambulan.

Sebanyak delapan petugas medis berkeliling ke lokasi pengungsi dan mendatangi rumah penduduk secara berkala bila memang mereka masih bertahan di rumah yang terkena banjir.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Tangerang, mendatangkan tiga pompa penyedot untuk mengatasi banjir di Kelurahan Gembor yang letaknya lebih rendah dibandingan dengan kawasan lain.

"Kami terpaksa mendatangkan tiga pompa penyedot mengurangi banjir di Perumahan Total Persada," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Kota Tangerang, H. Karsidi di Tangerang, Minggu malam.

Menurut dia, pompa yang sengaja didatangkan itu mampu menyedot air dengan kapasitas 100 liter per detik demi mengurangi genangan sekitar pemukiman.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau