Pada pekan keenam Liga Kompas Gramedia (LKG) U-14 musim kompetisi 2012 di Stadion Ciracas, Jakarta Timur, Minggu (12/2), terjadi insiden yang menunjukkan rendahnya sikap sportif para pemain saat pertandingan tim Sekolah Sepak Bola (SSB) Bina Taruna menghadapi SSB GOR Ragunan yang berakhir 4-0 untuk kemenangan Bina Taruna.
Pertandingan berjalan menarik dalam tempo tinggi karena keduanya adalah tim peringkat atas klasemen sementara (Bina Taruna peringkat ketiga dan GOR Ragunan peringkat keempat). Pada pertandingan babak kedua, ketika ketegangan meningkat, salah satu pemain Bina Taruna melayangkan tangannya ke kepala pemain GOR Ragunan. Tindakan tak sportif itu luput dari pengamatan wasit sehingga pemain Bina Taruna tak mendapat kartu kuning.
Namun, Pelatih SSB Bina Taruna yang melihat kejadian tersebut marah melihat ulah anak asuhnya. Pemain tersebut dipanggil pelatih ke pinggir lapangan dan tangan pelatih pun melayang ke kepalanya.
Manajer Bina Taruna Nofialdi menuturkan, pengelola Bina Taruna tak menghendaki anak asuhnya tak sportif. Bahkan, pemain yang mendapat kartu kuning seusai pertandingan diberi nasihat. ”Itu sebabnya pelatih langsung memanggil pemain tak sportif. Anak-anak sudah unggul, seharusnya mereka tak boleh seperti itu,” kata Nofaldi.
Pelatih GOR Ragunan M Yunus mengatakan, ia menyayangkan wasit tidak memberikan kartu merah kepada pemain Bina Taruna. ”Pemain Bina Taruna yang memukul pemain GOR Ragunan lalu dipukul oleh Pelatih Bina Taruna. Ini berarti anak itu memang salah,” kata Yunus.
Direktur Kompetisi LKG U-14 Dede Supriyadi menuturkan, saat insiden terjadi, wasit sudah berbalik badan sehingga tidak mengeluarkan kartu. Seharusnya hakim garis atau wasit cadangan yang melihat insiden itu melapor kepada wasit.
”Pemain itu tidak memukul, cuma menampar. Pemain yang berbuat seperti itu seharusnya mendapat kartu. Pelatih yang memukul pemainnya juga tidak boleh, mungkin karena pelatih marah sekali,” ujarnya.
Dede melanjutkan, wasit dan pelatih akan mendapat teguran serta evaluasi.
Hingga pekan keenam penyelenggaraan liga, komite terus memperbarui data jam bertanding pemain di tim masing-masing. Data ini diharapkan menjadi salah satu tolok ukur serius atau tidaknya pembinaan pada setiap SSB.
Catatan awal komite, masih ada SSB yang belum memainkan beberapa pemain terdaftar sebagai peserta kompetisi. Meski tidak terlalu mencolok jumlahnya, ketimpangan itu tetap terjadi. ”Ada beberapa tim belum memainkan semua pemain terdaftar. Waktu bermainnya belum merata. Hal seperti ini perlu terus diingatkan,” kata Dede.
Salah satu contoh yang bisa diikuti, berdasarkan data komite, adalah SSB Kabomania. Hingga pekan keenam, hanya satu pemain dari semua pemain terdaftar yang belum dimainkan.
Manajer SSB Cibinong Putra Agus Supriyanto mengatakan, meski kalah 0-2 dari SSB Persigawa, anak asuhnya memperoleh jam bermain lebih banyak lagi. Apalagi, para pemain yang diturunkan adalah pemain muda dengan jam terbang masih minim. ”Istilahnya pelapis. Namun, permainan mereka cukup baik,” katanya.
Dede kembali mengingatkan agar para pelatih dan manajer terus melakukan rotasi pemilihan pemain supaya kemampuan teknik dan mental pemain muda makin terasah.
Komite, menurut Dede, terus memperhatikan perkembangan tim-tim yang saat ini berada di peringkat bawah klasemen sementara. Manajer dan pelatih diharapkan lebih kreatif dalam memoles kemampuan para pemain muda.
SSB Kabomania dan SSB Villa 2000, hingga pekan keenam, belum tergeser dari peringkat pertama dan kedua klasemen sementara LKG. Pada pertemuan kemarin, keduanya berbagi satu angka setelah bermain seri 1-1.
Gol tunggal Kabomania dicetak oleh Roy Ramadhan Jayadi pada menit ke-22. Habib Arif Fadhilla mencetak satu-satunya gol bagi Villa 2000 pada menit keempat.
Pelatih Villa 2000 Ridho Mahendra menuturkan, pemainnya tidak lengkap sehingga gagal meraih hasil maksimal. Namun, ia menilai timnya beruntung karena lawan gagal mencetak gol saat terjadi peluang emas.