Konflik Arema IPL akibat Kepentingan Politik

Kompas.com - 14/02/2012, 03:57 WIB

MALANG, KOMPAS.com — Konflik yang terjadi di tubuh Arema Indonesia dinilai erat dengan kepentingan politik para elite lokal di Kota Malang. Ini ada kaitannya dengan pemilihan wali kota-wakil wali kota Malang yang akan dilangsungkan pada 2013.

Pendapat itu disampaikan Legal Officer Arema Indonesia versi PT Ancora, Soesanto, saat dihubungi Kompas.com, Senin (13/2/2012) malam. Menurutnya, konflik yang kini menimpa Arema Indonesia yang berkompetisi di Indonesia Premier League (IPL) itu adalah kepentingan politik para elite lokal yang ada di Kota Malang.

"Konflik di Arema itu adalah kepentingan politiknya Peni Suparto, bahkan juga kepentingannya Arifin Panigoro yang sudah sejak lama ingin take over Arema melalui Widjajanto, CEO LPIS. Sekarang saat buka-bukaan agar publik tahu yang sebenarnya," katanya.

Menurutnya, ada upaya pembusukan, perusakan, dan penggembosan terhadap manajemen Arema Indonesia di bawah pengelolaan PT Ancora. Tim yang ada terus "dilubangi" agar tak solid. Hal itu dinilai demi kepentingan politik.

"Publik sudah tahu bahwa Arema punya suporter fanatik luar biasa, solid, dan kompak dalam mendukung Arema, yakni Aremania. Potensi itu yang dikembangkan untuk mencari perhatian ke Aremania. Seharusnya, dukung kami sebagai investor, bukan malah digembosi dan dirusak," katanya.

Namun, untuk merusak Arema yang saat ini dikelola PT Ancora tidak mudah. Sebab, PT Ancora menjadi investor Arema itu murni untuk mengelola Arema menjadi klub profesional.

"PT Ancora tidak hanya pegang Arema, tapi juga pegang Bali Devata dan PSIS Semarang. Pemilik PT Ancora memang berada di jajaran kabinet, tapi bukan berangkat dari partai politik, tapi profesional. Kalau Arifin dan juga Peni di Malang, jelas politisi. Jadi, sudah jelas konflik di Arema adalah kepentingan politik," katanya.

Aremania, kata Soesanto, sudah tegas mengatakan di beberapa media kalau Arema jangan dibawa-bawa ke ranah politik, apalagi demi kepentingan oknum tertentu. "Di PT Ancora sama sekali tak ada orang politik, tapi orang profesional semua. Dan, PT Ancora sudah berkomitmen sejak awal akan kelola Arema menjadi klub yang lebih profesional dari kondisi sebelumnya," jelasnya.

Ditanya soal intervensi pihak oknum PSSI dalam konflik Arema, Soesanto dengan lantang menegaskan, saat ini mulai tampak intervensinya. "Sekarang mulai tampak. Hanya saya sadari, kami memang terlalu lugu, selalu ikut saran dan arahan dari LPIS sehingga terkesan kompromistis," katanya.

Saat ini, beber Soesanto, pihaknya akan tegas melaporkan intervensi LPIS ke FIFA. "Seharusnya kami diberi kesempatan untuk kelola Arema lebih profesional. Jangan diganggu dulu. Beri waktu untuk menyatukan Aremania mendukung Arema yang kami kelola. Program Ancora di dunia sepak bola Indoensia, terutama di Malang, akan mendirikan akademi sepak bola hingga level dunia," katanya.

Aremania, tambah Soesanto, juga harus tahu bahwa konflik di Arema itu bukan berawal dari pengelola yakni PT Ancora, tetapi pihak lain yang berkepentingan kepada Aremania dan mencari simpati kepada Aremania.

"Karena tak bisa dipungkiri, Aremania menjadi hal yang seksi untuk kepentingan politik," katanya.

Bupati Malang Rendra Kresna, kata Soesanto, terpilih menjadi bupati tak bisa terlepas dari dukungan Aremania. "Itu jelas dan siapa pun mengetahuinya bahwa karena berhasil membangun kepercayaan kepada Aremania. Ayo Aremania, dukung kami. Karena kami datang untuk Arema, bukan untuk kepentingan politik," katanya.

Saat ini, Arema memang didera konflik yang tak kunjung usai. Wali Kota Malang berencana akan take over Arema. Bahkan, ia sudah diberi mandat oleh HM Nur yang tetap mengaku sebagai Ketua Yayasan Arema dan diakui juga oleh PSSI, walau pada 21 Desember 2012 lalu M Nur sudah menyerahkan Yayasan Arema kepada Fanda Soesilo, pewakilan dari PT Ancora.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau