Virus Flu Burung Bisa Lebih Berbahaya

Kompas.com - 14/02/2012, 09:28 WIB

Jakarta, Kompas - Virus flu burung (H5N1) di Indonesia diduga telah berubah. Virus ini dikhawatirkan lebih berbahaya dibandingkan dengan sebelumnya. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memastikan tingkat fatalitas virus yang baru itu.

Laporan dari sejumlah daerah, hingga Senin (13/2), mengindikasikan perubahan itu. Meski demikian, belum dipastikan dampak dari perubahan itu.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah Whitono di Kabupaten Semarang mengungkapkan, sebagian unggas yang mati karena flu burung kini memiliki ciri-ciri yang tidak seperti biasanya, yaitu tidak ada bercak hitam atau kebiruan pada jengger atau bagian tubuh yang tidak berbulu.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Jawa Tengah Eko Sutarti mengungkapkan, meskipun belum pasti mengenai adanya virus baru, ciri-ciri unggas yang mati karena flu burung sebagian bergeser. Biasanya unggas yang mati karena flu burung ditandai dengan bercak biru atau hitam pada jengger atau bagian tubuh yang tidak tertutup bulu. Kini unggas yang mati mendadak tanpa bercak tersebut pun ditemukan positif flu burung.

Dari Brebes, Jawa Tengah, dilaporkan, sistem pertahanan tubuh unggas terhadap serangan virus di wilayah itu mengalami perubahan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal itu terlihat dari gejala klinis yang ditemukan pada kasus kematian ayam di wilayah tersebut, pekan lalu.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan Brebes Jhoni Murahman mengatakan, sekitar tahun 2003, saat pertama kali virus flu burung berjangkit di Brebes, gejala klinis kematian unggas saat itu berlangsung sangat cepat dan dalam jumlah banyak. Tanda-tanda fisik pada unggas yang mati terserang flu burung juga sangat jelas, yaitu tubuh menghitam, liur sangat banyak, kepala bengkak, dan jengger di kepala membiru.

Namun, saat ini, gejala klinis tersebut tidak terlalu tampak. Kematian unggas cenderung tidak serempak, tetapi satu demi satu. Tubuh unggas yang mati juga hanya membiru dengan liur yang tidak banyak dan kepala yang tidak bengkak.

Ketua Avian Influenza-zoonosis Research Center, yang juga dosen di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Surabaya, CA Nidom, mengatakan, keberadaan virus flu burung di Indonesia patut dikhawatirkan. ”Ada dugaan pertemuan antara virus H5N1 (flu burung) dan A H1N1 pan2009 (flu babi) di Indonesia. Ini bisa menghasilkan jenis virus baru yang lebih berbahaya,” katanya.

Dugaan itu didasarkan pada karakter virus yang terus berubah mengikuti kondisi lingkungan di tempatnya berada. Selama penelitian di laboratorium, ia melihat bahwa virus flu burung sangat peka. Saat listrik di laboratorium mati, misalnya, karakter virus itu berubah merespons perubahan lingkungan.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro mengatakan, dari penelitian laboratorium pada hewan coba bisa terjadi penataan ulang gen beberapa virus flu, seperti H5N1, A H1N1 pan2009, dan H3N2 yang berpotensi pandemi. (WIE/UTI/ARA/MAS/MAR)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau