Valentine day

Mahasiswi Malang Deklarasi Tutup Aurat

Kompas.com - 14/02/2012, 15:26 WIB

MALANG, KOMPAS.com — Puluhan mahasiswa dari berbagai kampus di Malang, Jawa Timur, yang tergabung dalam Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Universitas Brawijaya, Malang, menggelar aksi damai menolak hari Valentine dan mendeklarasikan Hari Tutup Aurat Internasional.

Dalam aksi damai yang digelar di Alun-alun Kota Malang, Selasa (14/2/2012) tersebut, selain membagi-bagikan selebaran berisi penolakan/antihari Valentine, mereka juga melakukan orasi. Husain selaku koordinator aksi menyampaikan, seharusnya umat Islam di Indonesia, bahkan di dunia, menolak tegas hari Valentine. Menurutnya, perayaan Valentine tak sejalan dengan syariat Islam, dan berasal dari budaya masyarakat Romawi kuno.

"Perlu diketahui, berawal dari sebuah ritual memuja Dewa Valentine (Dewa Kesuburan) dengan cara mencari pasangan muda-mudi secara bebas. Kemudian, mereka bisa melakukan sesukanya, termasuk freesex sehingga tidak ada bedanya manusia dengan binatang," kata Husain lantang.

Dalam aksi tersebut, dibentangkan poster bergambar perempuan berjilbab disertai kalimat ajakan untuk berjilbab "Ayo Tutup Aurat Mulai Hari Ini". Selain itu, juga digelar pembakaran kondom. Hal itu adalah bentuk protes terhadap maraknya jual beli kondom di pasaran yang dinilai memberikan kebebasan untuk melakukan hubungan seksual.

"Aksi ini, pertama, bertujuan untuk menolak Valentine Day dirayakan oleh umat Islam karena jelas tak sesuai dengan syariat Islam alias dihukumi haram. Kedua, aksi sekaligus untuk mendeklarasikan gerakan menutup aurat internasional pada 14 Februari," katanya.

Valentine Day yang jatuh pada 14 Februari, menurut Husain, diganti dengan Hari Gerakan Menutup Aurat Internasional. Menutupi aurat bagi perempuan adalah kewajiban dalam Islam. "Yang paling tragis, sesuai dengan data KPAI, sebanyak 32 persen remaja dalam usia 14-18 tahun sudah pernah berhubungan seks bebas. Hal itu jelas merusak agama dan merusak moral bangsa. Karena itu, kami meminta kepada pemerintah, terutama Majelis Ulama Indonesia (MUI), untuk ikut andil menjaga moral bangsa dengan menguatkan moral muda-muda generasi masa depan," katanya.

Husain mengaku, deklarasi gerakan menutup aurat internasional itu tidak hanya dilakukan di Malang, tetapi di seluruh Indonesia, dan juga di beberapa negara di dunia. "Deklarasi ini serentak di beberapa negara, yakni Malaysia, Inggris, Thailand, Hongkong, dan Makau," ungkapnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau