Elpiji nonsubsidi

PT Pertamina Rugi Rp 3,8 Triliun

Kompas.com - 15/02/2012, 03:02 WIB

Jakarta, Kompas - PT Pertamina (Persero) rugi dalam penjualan elpiji nonsubsidi pada tahun 2011 senilai Rp 3,8 triliun. Hal ini disebabkan harga jual elpiji nonsubsidi di bawah harga jual keekonomian.

Direktur Utama PT Pertamina Karen Agustiawan, Selasa (14/2), dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, di Jakarta, menjelaskan, dengan kerugian itu, berarti kerugian penjualan elpiji nonsubsidi lebih tinggi 34,8 persen daripada target kerugian penjualan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) PT Pertamina tahun 2011 yang sebesar Rp 2,3 triliun.

Perseroan itu juga rugi dalam penjualan bahan bakar minyak bersubsidi Rp 500 miliar. Padahal, target laba penjualan bahan bakar minyak bersubsidi dalam RKAP 2011 Rp 800 miliar. Hal itu karena ketidakcocokan antara penerimaan yang dihitung berdasarkan patokan harga minyak Singapura (Mean Oil Platts Singapore) bulan sebelumnya dan biaya yang dihitung dengan memakai harga minyak mentah bulan berjalan.

Realisasi volume penjualan elpiji nonsubsidi tahun 2011 mencapai 2,07 juta metrik ton atau 127 persen dari target dalam RKAP 2011 yang sebesar 1,63 juta metrik ton. Pada tahun ini, perseroan itu menargetkan volume penjualan elpiji nonsubsidi 2,17 juta metrik ton dan target kerugian dari elpiji nonsubsidi Rp 3,1 triliun.

”Kerugian penjualan elpiji nonsubsidi disebabkan peningkatan biaya elpiji,” kata Direktur Niaga dan Pemasaran PT Pertamina Djaelani Sutomo. Hal itu karena kenaikan harga pembelian elpiji tidak diimbangi dengan peningkatan harga jual, terutama untuk elpiji kemasan 12 kilogram yang belum mencapai harga keekonomian.

Wakil Presiden Komunikasi Korporat PT Pertamina Mochamad Harun menambahkan, harga keekonomian elpiji nonsubsidi Rp 9.000 per kilogram. Tingginya harga keekonomian ini juga dipengaruhi kenaikan harga minyak di pasar internasional, daya serap konsumen yang rendah, dan lonjakan permintaan di Eropa karena cuaca ekstrem. Padahal, harga jual elpiji nonsubsidi saat ini Rp 7.355 per kilogram.

Perseroan itu telah mengusulkan kenaikan harga elpiji nonsubsidi kepada pemerintah selaku pemegang saham PT Pertamina. Akan tetapi, pemerintah belum menyetujui usulan itu, dengan pertimbangan stabilisasi harga dan daya beli konsumen.

Secara keseluruhan, PT Pertamina membukukan laba bersih tahun 2011 belum diaudit Rp 21 triliun, naik dari laba tahun sebelumnya yang sebesar Rp 16,77 triliun, termasuk pendapatan dari bisnis hulu dan penjualan elpiji bersubsidi Rp 3 triliun. (EVY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau