Jakarta, Kompas -
Direktur Utama PT Pertamina Karen Agustiawan, Selasa (14/2), dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, di Jakarta, menjelaskan, dengan kerugian itu, berarti kerugian penjualan elpiji nonsubsidi lebih tinggi
Perseroan itu juga rugi dalam penjualan bahan bakar minyak bersubsidi Rp 500 miliar. Padahal, target laba penjualan bahan bakar minyak bersubsidi dalam RKAP 2011 Rp 800 miliar. Hal itu karena ketidakcocokan antara penerimaan yang dihitung berdasarkan patokan harga minyak Singapura (Mean Oil Platts Singapore) bulan sebelumnya dan biaya yang dihitung dengan memakai harga minyak mentah bulan berjalan.
Realisasi volume penjualan elpiji nonsubsidi tahun 2011 mencapai 2,07 juta metrik ton atau 127 persen dari target dalam RKAP 2011 yang sebesar 1,63 juta metrik ton. Pada tahun ini, perseroan itu menargetkan volume penjualan elpiji nonsubsidi 2,17 juta metrik ton dan target kerugian dari elpiji nonsubsidi Rp 3,1 triliun.
”Kerugian penjualan elpiji nonsubsidi disebabkan peningkatan biaya elpiji,” kata Direktur Niaga dan Pemasaran PT Pertamina Djaelani Sutomo. Hal itu karena kenaikan harga pembelian elpiji tidak diimbangi dengan peningkatan harga jual, terutama untuk elpiji kemasan 12 kilogram yang belum mencapai harga keekonomian.
Wakil Presiden Komunikasi Korporat PT Pertamina Mochamad Harun menambahkan, harga keekonomian elpiji nonsubsidi Rp 9.000 per kilogram. Tingginya harga keekonomian ini juga dipengaruhi kenaikan harga minyak di pasar internasional, daya serap konsumen yang rendah, dan lonjakan permintaan di Eropa karena cuaca ekstrem. Padahal, harga jual elpiji nonsubsidi saat ini Rp 7.355 per kilogram.
Perseroan itu telah mengusulkan kenaikan harga elpiji nonsubsidi kepada pemerintah selaku pemegang saham PT Pertamina. Akan tetapi, pemerintah belum menyetujui usulan itu, dengan pertimbangan stabilisasi harga dan daya beli konsumen.
Secara keseluruhan, PT Pertamina membukukan laba bersih tahun 2011 belum diaudit Rp 21 triliun, naik dari laba tahun sebelumnya yang sebesar Rp 16,77 triliun, termasuk pendapatan dari bisnis hulu dan penjualan elpiji bersubsidi Rp 3 triliun.