Taher Pertaruhkan Nyawa Bertemu Kekasih

Kompas.com - 15/02/2012, 12:04 WIB

RAMALLAH, KOMPAS.com - Pasangan muda Palestina Taher Muslimani dan Rita Isaac saling mencintai, kendati mereka terpisah. Sang pria tinggal di Israel dan si perempuan tinggal di Jalur Gaza. Keduanya baru sekali bertemu dan langsung menikah setelah Taher nekad mempertaruhkan nyawa dengan merangkak di terowongan antara Mesir dan Jalur Gaza.

Taher seorang sutradara. Ia berkenalan dengan sang wartawati ketika ia mencari seorang pembawa acara. "Saat itu kami juga sudah langsung sadar kalau kami memiliki cita-cita dan pikiran yang searah, kata Taher."

Akhirnya pencarian tak membuahkan hasil, dan mereka saling berhubungan melalui Facebook dan Skype.

"Taher itu berbeda dengan lelaki lain yang saya kenal," kata Rita. "Ia terbuka dan jujur. Sejak pertama kenal saya dapat berdiskusi soal apapun." Sementara Taher tak mau kalah menimpali. "Ketika baru kenal saya langsung punya perasaan dia akan menjadi pendamping hidup saya."

Taher (23) mengirim Rita (26) puisi-puisi cinta.

Ketika mereka sadar masing-masing punya perasaan yang sama, Taher langsung menceritakan soal Rita kepada keluarganya. Sesuai tradisi Palestina, maka ayah Taher langsung menelpon ayah Rita pada hari ulang tahunnya untuk melamar putrinya.

Pernikahan

Rita tak ragu sedikit pun menerima lamaran tersebut. Kendati mereka sebelumnya belum pernah bertemu dan saling menyentuh. "Penting jika anda bisa berbicara dengan seseorang."

Pernikahan belum berlangsung. Taher ketika itu meminta izin kepada otoritas Israel untuk mendatangkan Rita dan keluarganya untuk menikah. Setelah empat bulan menanti, akhirnya pasangan itu memutuskan untuk ke Mesir saja.

Namun sayang, Rita tak lolos dari pos penjagaan di Rafah. Taher memutuskan untuk merangkak di terowongan ke Gaza. "Beberapa hari sebelum saya masuk ke terowongan itu, saya mendengar ada lima orang tercekik tak dapat bernafas di terowongan itu," kata Taher.

"Kemungkinan terkena sasaran rudal Israel. Atau bisa saja terjadi korslet dan akhirnya anda kesetrum." Rita sangat ketakutan saat itu. Namun itu satu-satunya jalan. Taher sempat panik ketika di tengah terowongan ada seseorang yang merokok.

"Tidak ada udara di situ, anda bahkan tidak bisa berdiri tegak, ditambah asap rokok?"

Ketika Taher akhirnya keluar dari terowongan ia langsung menelpon Rita. "Saya gemetar, saya serasa seperti seorang remaja," kata Rita. Ketika Taher berada di pintu masuk rumahnya, Rita malah bersembunyi karena malu.

Setelahnya mereka akhirnya berpelukan dan menangis. "Saya tidak berhenti-henti memandangnya," kata Rita. Setelah beberapa hari, mereka akhirnya menikah pada 12 Juli didampingi keluarga Rita.

Karena keberadaan Taher di Gaza ilegal maka ia hanya bisa tinggal seminggu. Keberangkatannya sulit, perasaan Rita bakal terjadi sesuatu ternyata menjadi kenyataan. Ketika Taher tiba di Tel Aviv, ada tiga puluh polisi yang memasuki bus yang ditumpanginya. Mereka menyeret Taher untuk diinterogasi.

Setelah tiga minggu Taher bebas, karena terbukti Taher tak punya hubungan dengan kelompok ekstremis di Gaza. Ia dikenai tahanan rumah enam bulan.

Permohonan suaka

Sejak hari pernikahan, keduanya tak pernah bertemu lagi. Mereka berharap untuk saling bertemu pada Maret mendatang di Mesir. Yang masih menjadi tanda tanya adalah apakah mereka dapat hidup bersama?

Rita dan Taher bercita-cita dapat tinggal di Ramallah. "Atau Yordania atau Mesir, atau mungkin meminta suaka di salah satu negara Eropa," kata Taher.

"Kesulitan yang kami alami tidak memadamkan cinta kami, justru malah menambahnya," kata Rita. Jalan mereka masih panjang, namun "jalan akan terasa panjang, jika anda sendiri yang menciptakan halangan," kata Taher.

"Hidup akan menjadi lebih indah jika anda berusaha dan berkorban untuk orang lain."

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau