Menaklukkan Kemacetan dengan "Lampu Merah" Cerdas

Kompas.com - 15/02/2012, 15:53 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Macet jadi masalah yang seakan tak terpecahkan di Jakarta dan kota besar lainnya. Banyak pihak berusaha menaklukkannya dengan berbagai cara.

Problem kemacetan itu jadi salah satu tantangan yang bisa dipilih dalam kompetisi Lenovo Do Network. Nah, di antara 10 inovator Indonesia yang jadi finalis, terdapat proyek yang berani menantang kemacetan.

Lampu lalu-lintas cerdas

Salah satunya adalah dari Dr Petrus Mursanto MSc. Peneliti dari Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia, ini mengajukan sistam pengaturan lalu-lintas cerdas dan adaptif.

Pada dasarnya, proyek yang diajukan pria yang akrab disapa Santo ini bertujuan untuk mengatur lampu lalu-lintas sesuai dengan kondisi nyata di jalanan.

Contoh sederhananya, lampu lalu-lintas bisa mengetahui jalan yang terjadi penumpukan kendaraan sehingga diprioritaskan.

Sistem yang dikembangkan Santo dan tim Fasilkom UI dirancang untuk mengatur beberapa lampu lalu-lintas sekaligus. Sehingga, terjadi pengaturan arus lalu-lintas yang terkoordinasi.

Tak hanya itu, sistem yang dikembangkan itu bersifat adaptif. Artinya, ia bisa menyesuaikan terhadap kondisi dan "pengalaman". Jauh berbeda dengan sistem lampu lalu-lintas berbasis waktu saat ini.

Untuk kompetisi Do Network, Santo mengatakan fokusnya adalah pada sistem pengenalan kendaraan melalui kamera CCTV di jalan raya.

"Kami mencobanya di laboratorium, apakah bisa mengenali kendaraan dari berbagai sudut kamera dan berbagai skenario," tuturnya saat berbincang dengan wartawan di InterContinental, Mid Plaza, Jakarta, Selasa (14/2/2012).

Data dari kamera CCTV tersebut yang akan digunakan untuk memperkirakan berapa jumlah kendaraan yang ada di ruas jalan tertentu.

Rencana pengembangan

Santo berharap pihaknya bisa menjalin kerjasama dengan Traffic Management Centre, Polda Metro Jaya, untuk penerapan sistem tersebut.

"Ya, kami berharap bisa dilakukan di wilayah yang kecil dahulu. Di pinggir-pinggir, seperti di Depok atau Serpong misalnya," kata Santo.

Dengan melakukan uji coba lapangan, Santo mengatakan pihaknya bisa mendapatkan data lebih banyak. Semakin banyak data, dan semakin sering digunakan, sistem tersebut akan makin "cerdas".

Jika sudah diterapkan, sistem ini juga bisa digunakan sebagai sistem informasi kondisi nyata dan terkini (real time) lalu-lintas di jalan raya.

"Misalnya pada papan elektronik di jalan tol, itu bisa menunjukkan kondisi yang sesungguhnya, apakah ada kemacetan atau tidak," ujar Santo.

Selain itu, informasi tersebut logikanya juga akan bisa diakses melalui perangkat mobile atau lainnya sehingga membantu pengguna jalan menghindari kemacetan.

Pembatasan kendaraan

Ide yang juga terkait kemacetan lalu lintas muncul dari finalis Do Network lainnya yang bernama Bryan Rahardy, dari Surabaya.

Proyek Bryan bernama "Distance Limitation System" (DLS), yaitu berupa sistem yang akan mencatat seberapa jauh sebuah kendaraan telah bergerak.

Data itu, ujar Bryan, akan dikumpulkan dalam sebuah kantor atau lembaga yang mengelola. Hal ini kemudian digabungkan dengan aturan yang membatasi jarak tempuh kendaraan.

Sistem ini menurutnya bisa memantau apakah sebuah kendaraan telah melewati batas maksimal jarak tempuh yang diperbolehkan atau belum. Jika sudah, pemilik kendaraan bisa dikenai sanksi yang sesuai.

"Tentunya, ini harus didukung oleh peraturannya. Saat ini memang belum ada peraturan (pembatasan jarak tempuh)," kata Bryan.

Kompetisi Lenovo Do Network menghasilkan 10 finalis dari Indonesia. Mereka akan berkompetisi untuk memperebutkan gelar juara dan hadiah 25000 dollar AS.


Saksikan juga liputan mengenai inovator Do Network dalam tayangan Tekno di Kompas TV. Tekno di Kompas TV tayang setiap Sabtu pukul 23:30 WIB dan Minggu 11:30 WIB.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau