JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, aksi kekerasan yang melibatkan organisasi kemasyarakatan kebanyakan berawal dari hal-hal sepele. Namun, hal itu menjadi besar lantaran kerap menyinggung pihak-pihak yang bertikai.
"Motifnya biasanya sederhana, seperti pos dirusak, atau bendera organisasi yang dicabut. Sepele pointnya. Tapi itu menyangkut simbol teritorialnya," ujar Rikwanto, Rabu (15/2/2012), di Mapolda Metro Jaya.
Batas teritorial itu, lanjutnya, dibuat oleh masing-masing ormas dalam peraturan tidak tertulis sehingga jika ada anggota ormas yang melewati wilayah itu akan membuat salah satu pihak merasa dilewati. Motif seperti ini kerap terjadi dalam aksi bentrokan antara ormas Front Betawi Rempug (FBR) dengan Pemuda Pancasila (PP).
Bentrokan antarormas terakhir terjadi di Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Senin (13/2/2012). Pos wilayah PP dirusak puluhan orang dari ormas FBR. Mereka melakukan perusakan dan pembakaran pos tersebut. Delapan orang diamankan pihak kepolisian dalam penyerangan tersebut.
Sebelumnya, dua pos organisasi masyarakat Forum Betawi Rempug (FBR) dan Pemuda Pancasila (PP) di Jalan Basuki Rachmat, kawasan Pasar Gembrong, Rw 01 Kelurahan Cipinang Besar Utara, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur juga dirusak oleh pihak tak dikenal pada Selasa (14/2/2012) dini hari.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang