Makau, Kompas -
Tidak berlebihan jika dikatakan Indonesia butuh keajaiban untuk memenangi pertarungan melawan China. Harapan Indonesia menghindar pertemuan dengan China di perempat final sebenarnya terbuka saat tunggal pertama Adriyanti Firdasari mengalahkan Ratchanok Inthanon, 21-16, 23-21.
Firda di luar dugaan tampil cukup taktis untuk meredam permainan agresif Ratchanok. Kemenangan Firda ini sekaligus membalas kekalahan di final SEA Games tahun lalu.
Dengan kemenangan Firda, secara hitung-hitungan kekuatan, Indonesia tinggal mengambil angka dari dua nomor ganda. Namun, skenario ini kembali tidak berjalan. Ganda pertama Indonesia, Liliana Natsir/Meiliana Jauhari, kalah dari pasangan Saralee Thoungthongkham/ Kunchala Voravichitchaikul, 18-21, 19-21.
Hasil ini sekaligus memastikan kemenangan Thailand, karena sebelum laga ini Thailand sudah membalikkan keadaan 2-1 berkat kemenangan dua pemain tunggalnya, Porntip Buranaprasertsuk dan Sapsiree Taerattanachai. Porntip mengalahkan Lindaweni Fanetri, 21-18, 10-21, 21-18, sedangkan Sapsiree menaklukkan Bellaetrix Manuputty, 21-12, 14-21, 21-11.
Satu laga lain sudah tidak menentukan, yaitu antara pasangan Anneke Feinya/Nitya Krishinda dan Savitree Amitrapai/Sapsiree.
”Harus diakui peluang kami melawan China memang berat. Namun segala sesuatu masih mungkin terjadi,” kata Wakil Manajer tim Indonesia, Yacob Rudianto.
Tim Uber Indonesia akhirnya kalah 2-3 setelah pada partai terakhir, pasangan Thailand mengundurkan diri.
Sementara itu, tim Thomas Indonesia tampil sebagai juara Grup B setelah pada laga terakhir penyisihan grup mengalahkan India, 3-2. Meski menang, hasil ini di luar prediksi karena kecolongan dua poin.
Dua angka yang lepas yakni dari ganda pertama, Alvent Yulianto/Hendra AG, dan tunggal ketiga, Dionysius Hayom Rumbaka. Alvent/Hendra kalah dari pasangan Rupesh Kumar/Sanave Thomas, 18-21, 16-21, sedangkan Hayom takluk dari Sal Praneeth, 21-13, 15-21, 9-21. Simon Santoso, Taufik Hidayat, dan pasangan Markis Kido/Hendra Setiawan sukses menyumbang poin.
Pada babak perempat final, Indonesia akan menghadapi Korea Selatan yang secara mengejutkan dikalahkan Malaysia dengan angka tipis, 2-3. Koordinator tim Thomas, Ricky Subagja, mengatakan, Korea ataupun Malaysia memiliki kekuatan yang hampir sama. Jadi, siapa pun yang akan menjadi lawan Indonesia, maka pertandingannya akan ketat.
Pada babak kualifikasi zona Asia kali ini, Korsel kehilangan kekuatan dengan absennya pemain tunggal Park Sung-hwan dan pemain ganda Jung Jae- sung. ”Seperti Malaysia, kami harus bisa memanfaatkan kondisi ini. Tentu kami akan menurunkan kekuatan terbaik untuk mengamankan tempat di semifinal sekaligus tiket ke putaran final di Wuhan,” kata Ricky.
Untuk formasi tim, di sektor tunggal Indonesia kemungkinan akan menurunkan Simon, Taufik, dan Tommy Sugiarto. Sementara di ganda, Bona Septano/Muhammad Ahsan akan menjadi ganda pertama dilapis Markis/Hendra.
Simon yang akan menghadapi tunggal pertama Lee Hyun-ill mengatakan, pertandingan melawan Hyun-ill tidak akan mudah. Namun, dia siap main habis-habisan. ”Saya harus siap capek karena dia pemain berpengalaman,” kata Simon. Secara hitung-hitungan kekuatan, Indonesia harus bisa mengambil dua poin dari nomor tunggal dan satu dari ganda.
Pelatih ganda putra, Herry IP, mengatakan, peluang mengambil poin dari ganda tidak mudah. ”Bona/Ahsan peluangnya 50-50. Sekarang tinggal kesiapan mental dan konsentrasi mereka di lapangan. Peluang lebih terbuka di ganda kedua karena mereka menampilkan pemain yang bukan pasangan aslinya,” kata Herry.
Berdasarkan statistik, dari tiga pertemuan, Bona/Ahsan selalu kalah dari ganda pertama Korsel kali ini, Ko Sung-hyun/Yoo Yeon- seong. Terakhir mereka kalah di kejuaraan dunia 2011.
Jika Indonesia kalah dari Korsel, peluang meraih tiket ke putaran final tetap terbuka. Namun, tim ”Merah Putih” harus menjalani laga play off untuk memperebutkan tempat kelima. ”Ya, mudah-mudahan kami bisa menang dari Korea,” kata Ricky.