PADANG, KOMPAS.com — Lebih dari tiga tahun sejak gempa Padang berlalu, 225 siswa SDN 9 dan SDN 10 Kelurahan Berok Nipah, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Sumatera Barat, masih belajar di ruang kelas darurat.
Dari pantauan tim Ekspedisi Cincin Api Kompas, Kamis (16/2/2012), bangunan sekolah darurat itu sungguh memprihatinkan.
Dinding ruang kelas yang terbuat dari tripleks terlihat lapuk di sana-sini. Adapun lantainya adalah tanah yang berdebu saat panas dan becek saat hujan.
Seluruh murid belajar di meja dan kursi yang sudah reot.
"Tempat ini sangat tidak layak untuk belajar," kata Yusna Sukri, Wakil Kepala Sekolah SDN 10.
Menurut Yusna, seluruh murid di dua SD ini harus belajar di sekolah darurat karena bangunan sekolah itu hancur akibat gempa bumi Padang, September 2009.
"Sejak gempa itu, murid-murid harus belajar di kelas darurat. Kalau hujan atapnya bocor, banjir sampai sebetis, sampai sekarang belum bisa pindah ke sekolah permanen karena belum siap," kata Yusna.
Murid pindah
Yusna juga mengatakan, akibat rumor gempa besar dan tsunami pada 2010, puluhan murid dua SD itu pindah.
"Orangtua murid khawatir karena sekolah ini dekat sekali dengan laut. Sekitar 40 murid pindah," papar Yusna.
Sebenarnya saat ini sudah ada bangunan permanen untuk SD itu, tetapi belum bisa digunakan.
Yusna berharap Pemerintah Kota Padang secepatnya memindahkan murid-murid ke gedung yang saat ini sudah selesai dibangun.
"Kami belum boleh pindah, katanya menunggu kedatangan pihak Jepang yang membantu membangun gedung sekolah permanen," ujarnya.
Gedung sekolah permanen itu terlihat sudah berdiri dengan dua lantai. Namun, menurut Yusna, gedung itu belum dilengkapi meja kursi dan listrik.
"Kami ingin secepatnya pindah, kasihan murid-murid belajar di tempat darurat ini," kata Yusna.
Video Cincin Api
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang