Lagi-lagi Kalah Cerdik dari Thailand

Kompas.com - 17/02/2012, 03:46 WIB

Untuk kedua kali, tim Uber Indonesia dipecundangi Thailand. Jika sebelumnya tim ”Merah Putih” takluk pada SEA Games 2011, kekalahan kedua terjadi di penyisihan Grup Y Piala Uber zona Asia di Makau, Rabu (15/2) malam. Pertanyaannya, benarkah kekuatan bulu tangkis kita sudah di bawah Thailand.

Sekitar lima setengah jam sebelum pertandingan melawan Thailand, pengurus PBSI mengumpulkan semua pemainnya di restoran The Pena di lantai dua Hotel Casa Real, tempat mereka menginap. Selain makan siang bersama, acara yang dihadiri Ketua Umum PBSI Djoko Santoso itu juga dimaksudkan untuk menyuntik semangat dan motivasi pemain sebelum bertanding.

Pada kesempatan itu, Djoko kembali mengulang pernyataannya saat melepas rombongan di pelatnas Cipayung. Intinya, dia meminta semua pemain menunjukkan semangat juang dan meyakinkan pemain bahwa mereka bisa mengalahkan Thailand. Djoko bahkan dengan tegas mengatakan agar pemainnya bisa membuktikan kegagalan di India tahun 2006 tidak terulang.

Lima setengah jam kemudian, semua anggota tim sudah berada di Makau Forum, arena pertandingan. Suasana tegang terasa di kubu Indonesia. Bayangan kekalahan dari Thailand pada SEA Games di Jakarta sepertinya sulit dilepaskan.

Saat tunggal pertama Adriyanti Firdasari masuk ke lapangan, beberapa ofisial berupaya menghilangkan ketegangan dengan berteriak dan bertepuk tangan menyemangati Firda. Upaya ini rupanya cukup berhasil, ditambah dengan penampilan Firda yang begitu meyakinkan. Firda bermain taktis, melayani permainan Ratchanok Inthanon. Dia bahkan mengontrol jalannya laga dengan meredam permainan agresif lawannya.

Firda juga mampu mengatasi tekanan dari dalam dirinya dan berhasil dengan baik mengontrol emosi. Padahal, hanya sekitar 30 menit sebelum pertandingan, dia menyampaikan ke tim dokter bahwa dia baru mendapat haid. Dan di luar dugaan, Firda bisa mengatasi segalanya untuk memenangi pertandingan sekaligus membayar kekalahannya di Jakarta dari Ratchanok.

Kemenangan Firda atas Ratchanok kontan menghadirkan rasa optimisme di kubu Indonesia. Pasalnya dari hitung-hitungan kekuatan tim, untuk melibas Thailand, Indonesia minimal harus mengambil satu poin dari tunggal dan dua lainnya dari ganda. Satu poin itu, peluang terbesar memang dari Firda.

Di partai kedua, giliran Lindaweni Fanetri tampil menghadapi Porntip Buranaprasertsuk. Dari partai ini, kubu Indonesia sudah memprediksi poin bakal diambil Thailand. Ini karena, secara permainan dan peringkat, Porntip masih lebih baik dari Lindaweni. Meski demikian, kubu Indonesia tetap mengharapkan kejutan. Lindaweni sempat membuka harapan sebelum kalah di gim ketiga.

Sama seperti halnya dengan partai kedua, kubu Indonesia juga menduga Thailand akan mengambil poin dari tunggal ketiganya. Skenario ini pun berjalan sesuai dengan prediksi. Tunggal ketiga Thailand, Sapsiree Taerattanachai, menang atas Bellaetrix Manuputty dalam tiga gim.

Meski sudah tertinggal 1-2, kubu Indonesia masih optimistis karena di dua laga akhir akan memainkan nomor ganda yang diprediksi bisa disapu bersih Indonesia. Namun, kali ini skenario tak berjalan. Indonesia pun harus menerima kenyataan kalah dari Thailand setelah ganda kedua Indonesia yang dimainkan di partai keempat, Meiliana Jauhari/Liliyana Natsir, kalah dua gim langsung, 18-21, 19-21, dari Saralee Thoungthongkam/Kunchala Voravichitchaikul.

Dengan kekalahan ini, partai kelima sudah tak menentukan dan Thailand pun memberi kemenangan setelah Sapsiree yang berpasangan dengan Savitree Amitrapai mundur dari permainan dengan alasan cedera.

Lalu mengapa skenario tidak berjalan? Ada beberapa faktor. Pertama, strategi jitu tim Thailand. Tim Thailand sudah punya perhitungan bahwa kekuatan mereka ada di sektor tunggal. Karena itu, mereka mengacak formasi pemain gandanya juga sedikit ”berjudi” dengan memainkan Sapsiree di dua nomor, yakni tunggal dan ganda. Dengan kondisi ini, Thailand bisa mengajukan formasi tiga tunggal sekaligus kemudian dua nomor ganda.

Hebatnya, tim Thailand juga sudah mengantisipasi, jika salah satu tunggalnya kalah, maka akan berjuang mengambil poin lewat ganda kedua. Mereka menduga, sulit mengambil poin dari ganda pertama, karena itu mereka memperkuat di ganda kedua. Strateginya, mereka tidak memainkan pasangan nomor satu mereka, Duanganong Aroonkerson/Kunchala, tetapi mengombinasikan Kunchala dengan Saralee. Dengan demikian, pasangan ini akan sebagai ganda kedua, sedangkan ganda pertama diisi Sapsiree/Savitree.

Meski berstatus sebagai ganda kedua, Kunchala/Saralee tetap main terlebih dahulu. Ini untuk memberi kesempatan kepada Sapsiree yang sudah tampil sebagai tunggal ketiga. Meski bukan pasangan asli, mereka juga pernah main bersama. Itu sebabnya mereka lebih solid ketimbang Liliyana/Meiliana yang tidak pernah main bersama.

Faktor kedua, tim Indonesia sebelumnya tidak menduga Thailand akan memakai strategi ini. Itu sebabnya mereka menaikkan ganda kedua, Anneke Feinya/Nitya Krishinda, sebagai ganda pertama dengan cara mengorbankan atau tidak memainkan Greysia Polii. Pasangannya, Meiliana, diduetkan dengan Liliyana Natsir. Alasan menaikkan Anneke/Nitya, ganda ini menang dari ganda utama Thailand pada SEA Games. Sementara, di ganda kedua dicoba Meiliana/Liliyana. Itu sebabnya sejak tiba di Makau, dalam setiap sesi latihan, mereka selalu dipasangkan.

Mungkin, hasilnya akan lain jika tim Indonesia tetap memainkan Greysia Polii/Meiliana Jauhari sebagai ganda pertama. Sebab, dalam situasi yang menentukan ini, pengacakan pasangan terlalu riskan, apalagi jika tidak pernah bermain bersama. Namun, kalaupun ada faktor lain yang menyebabkan Greysia tidak bisa tampil, ini juga kekeliruan PBSI dalam pemilihan pemain.

Seandainya, PBSI mengikutsertakan pasangan Nadya Melati/Vita Marissa, situasi di atas mungkin tidak akan terjadi karena pilihan pemain lebih siap. Apalagi, Nadya/Vita saat ini penampilannya cukup bagus.

Namun, seperti pepatah, nasi sudah menjadi bubur. Tim putri Indonesia kembali harus dilangkahi Thailand. Semoga ini bisa jadi pelajaran buat PBSI ke depan karena kekalahan dari Thailand kali ini berkonsekuensi Indonesia harus menghadapi China pada babak perempat final. Sampai tulisan ini diturunkan, tim Indonesia masih berjuang untuk menaklukkan tembok China.

(Gatot Widakdo dari Makau, China)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau